Eisenkot Ditunjuk Bentuk Pemerintahan Baru, Netanyahu di Ujung Tanduk?
Partai Arab Kompak Ingin Netanyahu Lengser
Dukungan partai-partai Arab terhadap Eisenkot tidak terlepas dari keinginan mereka mengakhiri pemerintahan Netanyahu.
Ahmad Tibi, anggota senior Joint List—koalisi partai-partai Arab yang menguasai 11 kursi parlemen—mengatakan bahwa keputusan Herzog sudah sesuai perkiraan.
“Kami khawatir presiden akan bergerak menuju pemerintahan persatuan nasional,” ujar Tibi kepada Al Jazeera, merujuk pada kemungkinan kesepakatan pembagian kekuasaan antara Eisenkot dan Netanyahu.
Tibi memperkirakan Eisenkot akan membentuk pemerintahan minoritas dengan dukungan eksternal dari partai-partai Arab.
Meski pemerintahan tersebut bukan pilihan ideal bagi partai-partai Arab, Tibi menegaskan prioritas mereka adalah mengakhiri pemerintahan Netanyahu bersama dua tokoh sayap kanan, Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich.
Sementara itu, beberapa jam sebelum keputusan Herzog diumumkan, Netanyahu memperingatkan bahwa pemerintahan oposisi yang bergantung pada dukungan partai-partai Arab dapat membawa Israel menuju kehancuran.
“Pemerintahan seperti itu, yang bergantung pada kelompok Islamis, akan menghancurkan negara Israel dari dalam, seperti yang terjadi di negara-negara Eropa, bahkan jauh lebih buruk,” kata Netanyahu dalam pidato video yang direkam sebelumnya.
Pernyataan tersebut mendapat kecaman keras dari Tibi, yang menuding Netanyahu telah menggambarkan partai-partai Arab sebagai pendukung terorisme.
Tibi kemudian membalas dengan menuduh Netanyahu sebagai pendukung utama terorisme, khususnya kekerasan oleh kelompok ekstremis Yahudi di Tepi Barat dan wilayah Palestina.
Eisenkot bukan sosok baru dalam pemerintahan Israel. Ia pernah menjabat sebagai Panglima Militer Israel pada 2015 hingga 2019.
Ia juga pernah menjadi pengamat dalam kabinet perang Netanyahu selama delapan bulan pertama perang Israel di Jalur Gaza yang dimulai pada Oktober 2023.
Meski pernah berada dalam kabinet yang sama, keduanya kini menjadi rival politik dalam perebutan kendali pemerintahan Israel.
Namun, penunjukan Eisenkot belum otomatis mengakhiri masa jabatan Netanyahu.
Apabila Eisenkot gagal membentuk pemerintahan dalam batas waktu yang ditentukan, Herzog dapat memberikan mandat kepada kandidat lain.
Jika kandidat kedua juga gagal, mayoritas anggota parlemen dapat mengusulkan kandidat ketiga yang akan diberi waktu terakhir selama 14 hari.
Apabila seluruh upaya tersebut tidak membuahkan hasil, Israel harus kembali menggelar pemilihan umum dalam waktu 90 hari.
Dalam situasi itu, Netanyahu akan tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara hingga pemerintahan baru terbentuk.
Menurut Odeh, meskipun Eisenkot menolak membentuk koalisi resmi dengan partai-partai Arab, kedua pihak memiliki kepentingan politik yang sama, yakni mengakhiri pemerintahan Netanyahu.[]






