Elkisi Awards: Panggung Prestasi, Spiritualitas, dan Kebangkitan Generasi Baru Jawa Timur
Mojokerto (SI Online) – Elkisi Awards kembali digelar tahun 2025 ini dengan kemeriahan yang lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya.
Di Pesantren Elkisi Mojokerto yang luas dan penuh pemandangan hijau, hari itu suasana berubah menjadi lautan manusia. Lebih dari 1.000 peserta, pendamping, guru, dan orang tua membanjiri area acara, menciptakan atmosfer festival pendidikan-keislaman yang hidup, penuh energi, dan sarat makna.
Acara ini bukan sekadar kompetisi. Ia merupakan perayaan peradaban, sebuah ikhtiar untuk meneguhkan kembali tradisi keilmuan Islam yang selama berabad-abad menjadi fondasi kemajuan Nusantara.
Awards hadir sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas, antara kitab kuning dan sains, antara spiritualitas dan sportivitas.
Para peserta datang dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Timur: Lamongan, Gresik, Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan, Mojokerto dan lain-lain. Mereka membawa semangat khas daerah masing-masing, sekaligus memperkaya keberagaman suasana kompetisi. Tidak ada wajah yang benar-benar asing. Semuanya menyatu dalam energi besar untuk belajar, berkompetisi, dan saling menginspirasi.
Di antara kerumunan itu tampak rombongan santri kecil dengan baju koko putih bersih, para remaja penghafal Al-Qur’an dengan langkah tenang namun penuh keyakinan, serta para atlet muda yang siap berlaga di lapangan hijau. Para pembimbing tampak memompa semangat anak-anak asuh mereka, sementara para orang tua menikmati suasana bangga dan haru yang hampir sulit digambarkan.
Salah satu daya tarik terbesar Elkisi Awards adalah keberagaman cabang lomba. Panitia merancang rangkaian kompetisi yang tidak hanya menguji kemampuan spiritual dan intelektual, tetapi juga kemampuan fisik dan ketangkasan.
- Lomba Azan: Suara yang Menggetarkan Ruang dan Jiwa
Di ruang utama, lomba azan menjadi pusat perhatian. Suara-suara merdu anak-anak itu memecah keheningan, menggema indah seolah mengajak seluruh hadirin kembali mengingat panggilan Ilahi.
Beberapa peserta tampil dengan teknik nafas yang matang, melengkingkan nada-nada tinggi dengan stabil; yang lain tampil dengan suara berat nan khusyuk. Masing-masing membawa pesan bahwa panggilan azan bukan hanya sebuah bacaan, tetapi seni yang memerlukan hati yang bersih dan jiwa yang kokoh.
- Tahfidz Qur’an dan Hadits: Senyawa Hafalan dan Akhlak
Di ruang berbeda, para hafidz dan hafidzah kecil memulai tantangan mereka. Lomba tahfidz Qur’an dan tahfidz hadits selalu menjadi salah satu kategori yang paling mengharukan. Bukan hanya karena kemampuan peserta dalam menghafal ayat dan matan hadits, tetapi karena kedisiplinan dan kerja keras yang mereka lakukan jauh sebelum lomba dimulai.
Para juri tampak mengajukan pertanyaan secara acak, menguji bukan hanya hafalan, tetapi pemahaman konteks. Peserta tidak hanya dinilai dari kemampuan melafalkan, tetapi juga dari ketenangan, adab, dan ekspresi spiritual yang tampak dari wajah mereka.
- Karya Tulis Ilmiah: Menanam Bibit Pemikir Muda
Elkisi Awards juga memperkuat sisi akademik melalui lomba karya tulis ilmiah. Di sinilah peserta menguji kemampuan penelitian, logika, argumentasi, dan interpretasi data.
Para juri dari kalangan akademisi dan praktisi pendidikan terkesan oleh banyaknya karya yang menampilkan kedewasaan berpikir, mulai dari tema sosial, lingkungan, teknologi, hingga pendidikan Islam. Ajang ini menjadi salah satu medium penting untuk menumbuhkan budaya literasi—sebuah tradisi yang sejak dulu menjadi kebanggaan para ulama Nusantara.






