NASIONAL

Era AI: Jurnalis Tak Akan Digantikan, Justru Semakin Dibutuhkan

Lima Prinsip Islam untuk Jurnalisme Berbasis AI

Agar teknologi tetap berpihak pada kemanusiaan, Ismail menawarkan lima prinsip yang perlu menjadi fondasi jurnalisme di era AI.

Pertama, tabayyun, yakni melakukan verifikasi sebelum menyebarkan informasi.

Kedua, amanah, yaitu menjaga kepercayaan publik dengan tidak memanipulasi data maupun sumber informasi.

Ketiga, adil, memastikan semua pihak mendapatkan perlakuan yang proporsional dalam pemberitaan.

Keempat, maslahat, mempertimbangkan dampak sosial dari setiap informasi yang dipublikasikan.

Kelima, ihsan, yakni bekerja secara profesional, teliti, dan beradab.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus menjadi “redaksi batin” sebelum prosedur teknis diterapkan di ruang redaksi digital.

AI Bisa Membantu, Tapi Tidak Boleh Mengendalikan

Dalam praktiknya, AI dapat dimanfaatkan untuk mempercepat berbagai proses jurnalistik.

Mulai dari riset cepat, pemantauan isu publik, analisis percakapan media sosial, penyusunan draf artikel, penerjemahan bahasa, hingga distribusi konten ke berbagai platform.

Namun keputusan penting seperti verifikasi fakta, penyusunan sudut pandang berita, pemilihan judul, dan publikasi tetap harus berada di tangan manusia.

Konsep human-in-the-loop menjadi syarat utama agar AI tidak mengambil alih kendali editorial.

Ancaman Baru di Era AI

Di balik manfaatnya, AI juga membawa risiko yang tidak kecil. Teknologi ini dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi sebenarnya salah, fenomena yang dikenal sebagai halusinasi AI.

Selain itu, terdapat risiko bias algoritma, penyebaran deepfake, praktik clickbait yang semakin agresif, kebocoran data pribadi, hingga ketergantungan berlebihan yang membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis.

“AI bukan hanya alat produktivitas, tetapi juga bisa menjadi mesin produksi disinformasi,” kata Ismail.

Tabayyun Empat Lapis

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Ismail memperkenalkan konsep tabayyun empat lapis.

Pertama, memeriksa sumber informasi, termasuk rekam jejak dan kepentingan pihak yang menyampaikan informasi.

Kedua, memverifikasi isi konten, seperti data, kutipan, tanggal, dan fakta yang diklaim.

Ketiga, memahami konteks yang melatarbelakangi sebuah informasi.

Keempat, melakukan pemeriksaan teknis melalui metadata, pencarian gambar balik (reverse image search), hingga deteksi deepfake.

“Jangan berhenti pada kesan bahwa sesuatu terlihat benar. Tabayyun menuntut pembuktian,” tegasnya.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button