OPINI

Eropa Tak Bisa Mengecam Kolonialisme Secara Pilih-Pilih

Mengecam ambisi imperialis Trump terdengar hampa dari kekuatan-kekuatan yang masih menguasai wilayah seberang laut dan membenarkan kekerasan kolonial, dari Afrika hingga Gaza.

Meski Macron sebelumnya mengakui bahwa kolonisasi Prancis atas negara Afrika Utara itu merupakan “kejahatan terhadap kemanusiaan” yang ditandai oleh penyiksaan masif dan kekejaman lainnya, ia secara konsisten menolak untuk menyampaikan permintaan maaf resmi dari Prancis.

Namun, bukan hanya Prancis. Banyak kekuatan Eropa lain yang kini tiba-tiba menentang kolonialisme juga memiliki warisan kekejaman yang mengerikan di seluruh dunia.

Memang, dari Afrika hingga Asia, dari Timur Tengah hingga wilayah lainnya, sulit menemukan sebidang tanah pun yang tidak terdampak oleh penjarahan, perbudakan, pembantaian massal, dan kekejaman serupa selama berabad-abad kekuasaan Eropa.

Orang-orang Spanyol memusnahkan populasi Pribumi di seluruh benua Amerika, Inggris membuat kekacauan imperialis di mana pun ia bisa, dan Raja Leopold II dari Belgia memimpin kematian sekitar 10 juta orang Kongo sejak 1885, ketika ia mendirikan “Negara Bebas Kongo” sebagai milik pribadinya.

Pada 2022, Raja Belgia Philippe menyampaikan “penyesalan terdalam” atas kekejaman yang terjadi pada era kolonial, tetapi menahan diri dari permintaan maaf resmi. Seperti dicatat dalam sebuah artikel pada momen non-permintaan-maaf tersebut, kehidupan di Negara Bebas Kongo sedemikian rupa sehingga “desa-desa yang gagal memenuhi kuota pengumpulan karet terkenal dipaksa menyerahkan tangan-tangan yang dipotong”.

Sementara itu di Ethiopia, sejarawan Inggris Ian Campbell memperkirakan bahwa 19–20 persen populasi Addis Ababa musnah hanya dalam tiga hari selama pendudukan militer Italia di Afrika Timur pada 1937.

Daftar kekejaman Eropa masih panjang.

Tentu saja, ini bukan dimaksudkan untuk menyiratkan bahwa Trump karenanya berhak bebas melakukan kejahatan atau penjarahan apa pun yang ia inginkan. Ini hanyalah pengingat ramah bahwa Anda tidak bisa menentang kolonialisme secara selektif. (Greenland, sebagai catatan, merupakan koloni penuh Denmark hingga belum lama ini.)

Berbicara tentang kekejaman kolonial, Eropa selama lebih dari dua tahun genosida Israel yang terus berlangsung di Jalur Gaza tidak berhasil menunjukkan kemarahan yang memadai atas pembantaian massal tersebut, dan justru memilih jalur kritik dangkal serta keterlibatan de facto.

Saat pembunuhan berlanjut dengan kedok gencatan senjata yang dimediasi AS, Gaza kini—sesuai visi Trumpian—akan dikelola oleh sebuah “Dewan Perdamaian” yang diketuai oleh siapa lagi kalau bukan Trump sendiri.

Turut serta dalam dewan tersebut adalah perdana menteri Israel dan maestro genosida Benjamin Netanyahu, yang tak diragukan lagi menandai “kolonialisme baru” dengan jenis yang paling menyeramkan.

Namun sayangnya bagi dunia, kemunafikan yang berlumuran darah bukanlah hal baru. []

Sumber: Al Jazeera

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button