Gagas Arah Baru Pembangunan Bangsa, MAI Terbitkan Sejumlah Rekomendasi Strategis untuk Pemerintah
Sembilan anggota presidium MAI memiliki kedudukan sejajar dengan kepemimpinan giliran (rotational) setiap tahun. Kehadiran para ulama, akademisi, dan pakar ini diharapkan mampu melahirkan analisis yang menyeluruh.
Melalui Silaturahim Nasional dan Pleno I ini, MAI berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan nasional melalui kajian berkala dan policy brief ilmiah. Upaya ini diharapkan dapat menjaga harkat, martabat, serta kedaulatan bangsa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Baca juga: Majelis Arah Indonesia Resmi Diluncurkan, Siap Jadi Mitra Kritis-Konstruktif Pemerintah
Delapan Poin Rekomendasi Strategis MAI
Berdasarkan dokumen hasil Pleno I, Majelis Arah Indonesia merumuskan serangkaian masukan konkret bagi pengambil kebijakan negara:
- Geopolitik Internasional: Mendorong reaktualisasi politik luar negeri bebas-aktif (Strategic Autonomy 2.0), kepemimpinan dalam Global South, diplomasi independensi Palestina, kedaulatan digital, serta penguasaan teknologi nuklir damai (PLTN SMR).
- Reformasi TNI-Polri dan Pemberantasan Korupsi: Menuntut penguatan profesionalisme dengan membatasi penempatan prajurit aktif di jabatan sipil, mengikis kultur militeristik Polri, percepatan revisi UU Peradilan Militer, serta penerapan merit system dalam rekrutmen.
- Keadilan Ekonomi dan SDA: Mengusulkan penyusunan Indeks Aktualisasi Pasal 33 UUD 1945, pembentukan Forum Ulama-Umara, audit menyeluruh atas manfaat sumber daya alam, serta penindaktegasan atas praktik monopoli dan kartel.
- Gerakan Keumatan: Membangun konsolidasi antar-gerakan Islam, penguatan ekonomi akar rumput, literasi digital, serta pencegahan penyakit masyarakat seperti judi online (judol), narkoba, dan LGBT.
- Pengembangan Ekonomi Syariah: Menerapkan uji keberlanjutan (Sustainability Test) berbasis Maqashid Syariah, penguatan ZISWAF Impact Lab, serta menjadikan pesantren sebagai pusat model ekonomi hijau dan biru.
- Dunia Kepesantrenan: Memperkuat tata kelola pesantren dengan mengintegrasikan turats (kitab kuning) dan ilmu kontemporer (ulum ‘asriyyah), jaminan finansial mandiri, serta penyusunan Peta Jalan Pesantren 2026–2045.
- Peran Media Nasional: Mempersyaratkan media massa untuk aktif menanamkan adab, melawan disinformasi atau hoaks, serta membangun budaya digital yang beretika.
- Arah Keagamaan dan Kebangsaan: Memperkuat ukhuwah sebagai modal sosial, menghidupkan kembali kajian fikih siyasah, serta menjalankan fungsi amar ma’ruf nahi munkar secara adil dan beradab.[]
red: shodiq ramadhan






