NUIM HIDAYAT

Guru Politik Islam yang Hebat

Ia adalah ulama besar yang sangat cermat dalam penulisan. Keilmuannya tidak kalah dengan ulama Timteng yang hebat.

Suatu saat saya ke rumahnya. Ada penjual madu datang dan menawarinya. Kemudian ia beli. Ia menyatakan ia beli meski ia tidak membutuhkan. Ia ingin bersedekah dengan orang itu. Saya trenyuh melihat akhlaknya.

Jadi beliau tipe guru ideal. Bukan hanya dermawan dalam ilmu, tapi juga dermawan dalam harta. Satu-satunya mobil yang dimilikinya, sering dipakai murid muridnya untuk berdakwah.

Hidupnya sangat sederhana. Kehidupannya dipenuhi dengan ilmu dan ilmu. Mengajar dan menulis. Bersilaturahmi dengan para ulama Islam lain dan kadang juga bersilaturahmi dengan murid muridnya.

Sekitar tahun 1994, saya pernah didatangi beliau di kost saya. Beliau nanyain kabar saya dan teman teman. Kemudian beliau cerita sejarah Islam. Perilaku para sahabat Rasulullah yang menjadi teladan dan lain-lain. Bila beliau berkisah, selalu menarik dan saya selalu terpana mendengar kisah yang beliau ceritakan.

Yang saya kaget, setelah tidak bertemu sekitar 10 tahun, beliau tiba-tiba datang ke kantor saya Gema Insani Press. Waktu itu saya kebetulan manajer penerbitan GIP. Beliau nanyain kabar saya, kemudian saya tunjukkan buku yang saya tulis “Sayid Qutb, Biografi dan Kejernihan Pemikirannya.” Beliau senang sekali dan menyatakan bahwa ada ulama Pakistan juga yang hebat yaitu Abul A’la al Maududi.

Malah beliau menyarankan saya, agar terus menulis. Beliau memuji tulisan tulisan saya. Dan sebagai murid, tentu saya senang dengan pujian dan motivasi beliau.

Bila mengajar murid muridnya, ia selalu mendorong agar menjadi orang yang alim atau hebat. Ia mencontohkan prestasi prestasi hebat para sahabat yang menjadi pemimpin masyarakat atau dunia.

Suatu waktu ia menasihati saya lebih baik punya murid sedikit tapi pengaruhnya besar daripada murid banyak tidak ada pengaruhnya di masyarakat. Satu atau dua murid yang bisa mempengaruhi ribuan atau jutaan orang itu lebih baik. Saya lagi lagi terpana. Belum pernah saya mendengar nasihat yang hebat seperti itu.

Kini ketika Iran diperangi AS dan Israel, di kamar saya tergeletak buku beliau berjudul “Islam Menolak Bantuan Militer Negara Kafir.” Buku ini beliau tulis dalam bahasa Arab dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Terbit tahun 1990.

Dalam buku ini ia menjelaskan lebih dulu tentang fakta fakta bahwa Kerajaan Saudi mengundang pasukan Ametika cs untuk mengusir Presiden Irak Saddam Hussein yang waktu itu mencaplok negara Kuwait.

Ustadz Abdurrahman menjelaskan, seharusnya negeri negeri Islam sendiri yang menyelesaikan nafsu kuasa brutal Saddam Hussein itu. Bukan mengundang pasukan kafir untuk menyelesaikan masalah di negeri kaum Muslimin. Ustadz mengutip pejabat Amerika yang menyatakan bahwa keberadaan pasukan Amerika di Saudi bisa dalam jangka waktu yang lama.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button