Guru Politik Islam yang Hebat
Alhamdulillah ketika menjadi mahasiswa IPB saya mempunyai guru yang hebat dalam politik Islam, yaitu Ustadz Abdurrahnan al Baghdadi. Karena keilmuannya yang hebat itu ia diberi gelar doktor oleh ulama yang terkenal di tanah air.
Tahun 1987, saya ikut ngaji sama beliau. Waktu itu kebetulan saya yg paling muda yg ikut ngaji. Keilmuannya luar biasa. Kitab kitab atau bukunya ribuan. Dalam bahasa Arab, Inggris dan Indonesia.
Kalau ceramah datar, tidak berapi api. Kurang menarik mungkin bagi orang awam. Tapi bila dialog dan menulis, kelihatan ilmunya. Puluhan karyanya baik dalam bentuk buku atau makalah.
Pernah suatu waktu, ia minum sambil berdiri. Tentu kaget beberapa muridnya. Kemudian ia jelaskan bahwa boleh minum sambil berdiri, karena Rasulullah pernah minum sambil berdiri.
Saya sering ke rumahnya untuk diskusi dan kadang diajak makan bersama dengan keluarganya. Kalau saya bertanya sesuatu, kadang langsung ia ambilkan kitab untul menjelaskan pertanyaan saya itu.
Bila ada majalah atau kitab yang menarik dari Timteng, ia tunjukkan atau bagikan kepada murid muridnya.
Karena pemikiran beliau yang cemerlang dan kepribadiannya sebagai guru yang ngemong, membuat saya tertarik untuk terus berguru kepada beliau. Selain berguru kepada beliau, saya juga berguru kepada ustadz-ustadz alumni Timteng, antara lain Ustadz Abbas Aula, Ustadz Hanan Abbas, Ustadz Mustafa Abdullah bin Nuh dan Ustadz Didin Hafidhuddin.

Karena gairah yang tinggi belajar Islam itu, kuliah saya di IPB kedodoran. Karena sering gak masuk kuliah, beberapa mata kuliah saya harus mengulang. Bahkan saya bertekad dalam hati, biarkan saya nggak lulus IPB, saya akan pindah di tempat lain. Alhamdulillah saya akhirnya lulus dari IPB dengan nilai yang pas-pasan. Untuk memperbaiki nilai itu saya melanjutkan kuliah master di UI dan mendapat nilai cukup bagus.
Ketika kuliah di UI itu (2001-2004) karena saya menulis beberapa kali artikel di koran Republika, saya mendapat honor dari UI. Lumayan buat tambah nafkah. Karena waktu mengambil master itu kehidupan ekonomi keluarga saya lagi sempit.
Pengalaman yg tidak terlupakan adalah sekitar tahun 2002, almarhum Fauzan Anshari tiba-tiba telpon saya. Ia menyatakan bahwa Kepala BIN Zain Maulani ingin ketemu dengan saya, karena tertarik dengan artikel saya di Republika berjudul “Teroris dan Islam Militan.” Sayang karena sedikit kesibukan, saya tidak bisa memenuhi keinginan kepala BIN itu. Hingga beberapa saat kemudian Zain Maulani meninggal dunia.
Saya memang pernah bertemu Zain Maulani bareng-bareng dengan teman. Tapi bertemu empat mata belum pernah. Saya menyesal gak nemui dia waktu itu. Tapi mungkin sudah takdirnya.
Kembali kepada Ustadz Abdurrahman. Beliau menulis bagus sekali buku “Umatku Bangkit dan Bersatulah” serta “Seni dalam Pandangan Islam.” Di buku seni ini menarik, karena ketika beberapa ulama mengharamkan seni musik, beliau membolehkannya. Tentu disertai dengan argumen Qur’an dan Hadits. Ia paparkan dalil dalil ulama yang membolehkan dan mengharapkannya kemudian ia tarjih.





