Hari Demi Hari, Trump Terjebak dalam Krisis Iran yang Ia Ciptakan Sendiri
Tantangan besar
Bahkan jika negosiasi dimulai, 30 hari adalah waktu yang sangat singkat untuk menyelesaikan konflik kompleks seperti program nuklir Iran dan sanksi internasional.
Sebelum perang, Iran menawarkan moratorium pengayaan uranium selama lima tahun, sementara AS menuntut 20 tahun. Proposal baru mengarah pada kompromi sekitar 12–15 tahun.
Iran juga sebelumnya bersedia mengurangi atau mengekspor stok uranium yang diperkaya tinggi. Proposal baru mengarah pada ekspor, bahkan mungkin ke AS.
Sebagai imbalan, aset Iran yang dibekukan akan dicairkan bertahap dan sanksi dicabut secara bertahap.
Namun agenda ini sangat ambisius dan rentan gagal. Kedua pihak tampaknya masih percaya bahwa pertempuran lebih lanjut bisa memperkuat posisi mereka dalam negosiasi—situasi yang tidak stabil untuk mencapai perdamaian.
Israel juga diperkirakan akan menolak kesepakatan yang tidak mencakup rudal Iran atau peran proksi regionalnya.
Harga yang sangat mahal
Jika berhasil, kesepakatan ini mungkin sedikit lebih baik dibanding yang dibahas sebelum perang pada Februari. Namun, peningkatan tersebut datang dengan harga yang mengerikan.
Lebih dari 5.000 orang telah tewas, termasuk 120 anak sekolah dasar pada hari pertama serangan di Minab, serta korban di Lebanon.
Dampak global juga besar: PBB memperkirakan 32 juta orang bisa jatuh ke dalam kemiskinan akibat perang, terutama karena gangguan pasokan energi dan pupuk.
Kepala kemanusiaan PBB menyatakan bahwa dana perang sebesar 2 miliar dolar per hari sebenarnya bisa menyelamatkan sekitar 87 juta nyawa jika digunakan untuk bantuan kemanusiaan.
Kesimpulan
Sulit memastikan apakah perang ini memperkuat atau justru melemahkan rezim Iran. Untuk saat ini, tampaknya justru memperkuat kelompok militer dan garis keras.
Masih banyak ketidakpastian seputar kemungkinan terobosan ini, dan setiap kemajuan akan sangat rapuh.
Namun, bahkan jika perang berakhir dan kesepakatan tercapai, konflik ini tampaknya akan dikenang sebagai salah satu perang paling sia-sia dalam sejarah. []
Sumber: The Guardian






