Hari Demi Hari, Trump Terjebak dalam Krisis Iran yang Ia Ciptakan Sendiri
Oleh : Julian Borger, di Yerusalem
Usulan terbaru, yang dicemooh Teheran sebagai “daftar keinginan”, mungkin bisa menjadi jalan keluar – tetapi dengan 5.000 korban tewas, harganya sangat mahal.
Satu hari lagi, satu lagi belokan tajam dalam kebijakan luar negeri Donald Trump.
Akhir pekan dipenuhi retorika perang, dengan Trump bersikeras Iran belum “membayar harga yang cukup besar”. Selasa diisi dengan “Project Freedom”, yang digambarkan sebagai langkah “kemanusiaan” besar untuk memungkinkan kapal-kapal dan awaknya keluar dari Teluk, tetapi juga bertujuan melemahkan cengkeraman Iran atas Selat Hormuz.
Namun, pada Rabu dini hari, narasi kembali berubah ke arah perdamaian. Presiden mengumumkan bahwa “kemajuan besar telah dicapai menuju kesepakatan lengkap dan final”, sehingga Project Freedom akan dihentikan sementara untuk memberi kesempatan pada negosiasi.
Ketiga pendekatan dalam tiga hari berturut-turut ini memiliki satu kesamaan: semuanya merupakan upaya menghadapi kenyataan keras yang sama. Rezim Iran tidak mungkin runtuh atau menyerah pada hak pengayaan uranium, berapa pun bom yang dijatuhkan. Teheran juga telah menunjukkan kemampuannya menutup Selat Hormuz, dan blokade total Teluk justru merugikan ekonomi AS selain Iran.
Fakta-fakta ini membentuk semacam “kotak baja” yang menjebak pemerintahan Trump—sebagian besar akibat tindakannya sendiri. Perubahan kebijakan yang berulang menunjukkan ia seperti tersesat di dalam perangkap itu, mencari jalan keluar selain penghinaan atau perang tanpa akhir.
Masih terlalu dini untuk mengatakan apakah Trump telah menemukan jalan keluar. Ancaman tambahan untuk meningkatkan pemboman “dengan tingkat dan intensitas lebih tinggi” jika Iran menolak kesepakatan menunjukkan keraguannya sendiri.
Proposal damai yang rapuh
Rincian proposal mulai jelas pada Rabu. Dilaporkan bahwa AS, Iran, dan mediator Pakistan hampir menyepakati sebuah “nota kesepahaman” satu halaman untuk mengakhiri perang dan memulai negosiasi 30 hari terkait program nuklir Iran, sanksi AS, dan aset Iran yang dibekukan.
Kedua pihak juga akan mencabut blokade di Selat Hormuz selama periode tersebut.
Pengumuman Trump sempat menurunkan harga minyak dan mengangkat pasar saham, tetapi situasinya tetap rapuh.
Iran menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz mungkin terjadi, tetapi belum memberikan jawaban tegas. Teheran menegaskan blokade harus diakhiri terlebih dahulu sebelum negosiasi dimulai.
Seorang pejabat parlemen Iran bahkan menyebut proposal itu sebagai “daftar keinginan Amerika, bukan kenyataan”.






