IBRAH

Hidup Kita di Dunia Cuma Dua Menit di ‘Jam Akhirat’

Dari 45 tahun itu, masih harus dikurangi waktu tidur. Manusia rata-rata tidur 8 jam per hari, yakni sepertiga dari 24 jam. Sepertiga dari 45 tahun adalah 15 tahun, sehingga umur efektif yang dijalani dalam keadaan sadar dan terkena beban syariat tinggal sekitar 30 tahun.

Pertanyaan yang patut diajukan: apakah 30 tahun tersebut benar-benar diinvestasikan untuk kepentingan kehidupan abadi di akhirat, atau justru lebih banyak dihabiskan untuk urusan dunia yang tidak bernilai di sisi Allah Ta’ala?

Shalat: Tidak Cukup Sekadar “Adanya”

Jika dilihat dari sisi ibadah formal, shalat wajib memberikan gambaran yang sangat jujur tentang bagaimana manusia membagi waktunya. Rata-rata seseorang melaksanakan satu kali shalat wajib sekitar 5 menit. Lima waktu shalat berarti hanya 25 menit dalam sehari.

Dalam setahun, 25 menit dikalikan 365 hari menghasilkan 9.125 menit, atau sekitar 152 jam, yakni kurang lebih 6,3 hari. Artinya, dari 365 hari dalam setahun, manusia rata-rata hanya menggunakan sekitar enam setengah hari untuk secara formal berdiri menghadap Allah dalam shalat fardhu.

Jika sisa umur efektifnya 30 tahun, maka total waktu shalat wajib yang terkumpul hanya sekitar 190 hari, tidak sampai dua tahun. Padahal dua tahun inilah yang – dari sisi shalat – dipersembahkan untuk persiapan kehidupan yang tidak berujung.

Itu pun masih perlu dipertanyakan dari sisi kualitas. Apakah selama lima menit setiap shalat itu benar-benar penuh kekhusyukan? Ataukah rasa khusyuk hanya hadir sekilas pada saat takbiratul ihram, lalu pikiran segera melayang kepada urusan dunia?

Sementara itu, berapa banyak waktu terbuang percuma untuk duduk di depan televisi, berselancar di gawai, bermain gim, nongkrong tanpa tujuan, atau sekadar melamun tanpa dzikir dan niat yang benar? Seringkali satu hingga tiga jam per hari berlalu tanpa terasa, namun 25 menit shalat terasa berat dan panjang.

Ciri Orang Cerdas dan Orang Lemah

Dalam sebuah hadits yang agung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ»

“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab/menghitung dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti jiwanya (dengan) hawa nafsunya dan (hanya) berangan-angan kepada Allah (mendapat ampunan dan surga).” (HR. Ahmad)

Hadits ini menegaskan bahwa ukuran kecerdasan sejati bukan terletak pada kecakapan duniawi semata, melainkan pada sejauh mana seseorang memikirkan dan mempersiapkan masa depannya yang paling panjang: kehidupan setelah mati. Semakin jauh orientasi waktu yang dipikirkan, semakin tinggi kualitas kecerdasannya. Sebaliknya, orang yang hanya memikirkan kenikmatan sesaat di dunia, tanpa memikirkan dampak jangka panjang di akhirat, tergolong dalam golongan yang lemah dan tertipu.

Seringan-ringan Siksa di Neraka

Neraka bukan tempat yang sanggup ditahan oleh siapa pun, bahkan untuk waktu yang amat singkat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ تُوْضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ»

“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang diletakkan di bawah telapak kakinya dua bara api, seketika otaknya mendidih karenanya.” (HR. Bukhari)

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button