IBRAH

Hidup Kita di Dunia Cuma Dua Menit di ‘Jam Akhirat’

Itu adalah siksa yang paling ringan, bukan yang paling berat. Jika siksa teringan saja sudah demikian dahsyat, bagaimana dengan siksa yang lebih berat dari itu? Tidak ada satu pun manusia yang mampu bertahan terhadapnya, meskipun hanya sedetik.

Menyeberangi Shirath dan Penyesalan Manusia

Dalam hadits lain disebutkan adanya perbedaan kecepatan manusia ketika menyeberangi shirath, jembatan di atas neraka menuju surga. Ada yang melintas secepat kilat, ada yang seperti angin, ada yang seperti terbangnya burung, ada yang seperti larinya seorang laki-laki, ada yang merangkak namun akhirnya masuk surga, dan ada yang merangkak lalu terjatuh ke neraka. (HR. Muslim)

Sebagian kaum beriman yang amal salehnya lebih berat daripada dosa-dosanya akan masuk surga tanpa harus merasakan siksa neraka terlebih dahulu. Namun, ada juga yang harus lebih lama menunggu, atau menyeberangi shirath dengan susah payah, sehingga muncul penyesalan mengapa di dunia dulu tidak bersungguh-sungguh dalam beramal.

Adapun kaum muslimin yang amal buruknya lebih berat dari amal baiknya, mereka tetap tidak kekal di neraka, tetapi harus merasakan siksa terlebih dahulu sebelum akhirnya dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam surga dengan karunia Allah. Penyesalan mereka tentu jauh lebih berat, karena merasakan langsung pedihnya adzab yang tak sanggup ditanggung oleh siapa pun walau sekejap.

Menata Dua Menit yang Menentukan Selamanya

Jika hidup dunia yang dirasakan kelak hanya seperti dua menit dalam timbangan akhirat, maka dua menit inilah yang menentukan seluruh perjalanan abadi setelahnya. Sekadar mengandalkan shalat wajib saja belum cukup, apalagi jika masih sering ditinggalkan atau dilaksanakan tanpa kekhusyukan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum telah memberikan teladan: mereka memaksimalkan shalat, puasa, sedekah, dakwah, jihad, dan seluruh amal saleh lainnya untuk meraih ridha Allah Ta’ala.

Maka, setiap muslim perlu kembali menghisab dirinya:

Berapa banyak dari sisa umur yang benar-benar dipakai untuk amal yang bermanfaat di akhirat?

Apakah waktu yang tersisa akan dihabiskan untuk kesenangan sesaat, atau diinvestasikan untuk kebahagiaan yang tidak berkesudahan?

Hidup di dunia memang singkat, namun dari kesingkatannya itulah ditentukan kehidupan yang tiada akhir. Karena itu, selayaknya seorang mukmin tidak menyia-nyiakan umur, tetapi mengisinya dengan ketaatan dan amal saleh, sebelum “dua menit” itu berakhir dan tidak dapat diulang kembali. Wallahu ‘Alam bis Shawab.[]

Muhammad Fitrianto, Pendidik di SMAIT Ar Rahman Banjarbaru.

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button