Hidup Kita di Dunia Cuma Dua Menit di ‘Jam Akhirat’
Hidup manusia di dunia sangat singkat. Dalam perspektif akhirat, usia puluhan tahun yang terasa panjang ini kelak hanya tampak seperti momen yang amat sebentar, namun justru menjadi penentu nasib abadi manusia setelah kematian.
Hidup di Dunia: Hanya Sekejap
Al-Qur’an menggambarkan betapa pendeknya kehidupan dunia ketika manusia menyaksikan hari kebangkitan. Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An-Nazi‘at: 46)
Dalam ayat lain, Allah menegaskan perbedaan dahsyat antara ukuran waktu di sisi-Nya dan di sisi manusia: “Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al-Hajj : 47)
Jika satu hari di sisi Allah setara dengan seribu tahun di dunia, maka satu jam di sisi Allah kurang lebih sepadan dengan sekitar 41,67 tahun umur manusia. Orang yang berumur 41,67 tahun, kelak “merasa” hidup di dunia hanya sekitar satu jam. Yang berumur 62,5 tahun, sekitar satu setengah jam. Yang berumur 83,33 tahun, sekitar dua jam saja.
Dalam ayat lain, bahkan disebutkan skala waktu yang lebih besar: “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma‘arij : 4)
Jika hari di ayat ini dijadikan ukuran, maka usia 70 tahun di dunia kurang lebih hanya sekitar dua menit satu detik dalam “jam akhirat”.
Umur yang Benar-Benar Dihitung
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan rata-rata umur umat beliau:
«أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ»
“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit di antara mereka yang melampaui usia tersebut.” (HR. Ibnu Majah)
Namun, tidak semua rentang usia itu akan dimintai pertanggungjawaban. Dalam sebuah hadits disebutkan:
«رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَفِيقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ»
“Telah diangkat pena (pencatat amal) dari tiga golongan: dari orang gila sampai ia sadar, dari orang tidur hingga ia bangun, dan dari anak kecil hingga ia baligh.” (HR. at-Tirmidzi)
Menurut Imam Syafi‘i rahimahullah, rata-rata manusia mencapai usia baligh di sekitar umur 15 tahun. Maka jika seseorang diberi umur 60 tahun, masa yang benar-benar tercatat sebagai beban taklif (pertanggungjawaban) kurang lebih 45 tahun.






