#Ramadhan 1447 HKHOTBAH

Hidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan dengan Hati yang Bersih

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ، أَحْمَدُهُ ـ سُبْحَانَهُ ـ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، أَحْكَمُ الحَاكِمِينَ وَأَسْرَعُ الحَاسِبِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَإِمَامُ المُرْسَلِينَ وَقَائِدُ الغُرِّ المُحَجَّلِينَ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الغُرِّ المَيَامِينِ، وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُونَ، أُوصِينِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ. اتَّقُوا اللَّهَ فِي السِّرِّ وَالعَلَنِ، فَإِنَّهُ حَبْلُ اللَّهِ المَتِينُ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي القُرْآنِ العَظِيمِ:﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

Jamaah salat Jumat raḥimakumullāh

Marilah kita panjatkan rasa syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala nikmat yang tidak terhitung jumlahnya, terutama nikmat iman dan Islam. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Saw., beserta keluarga, dan para sahabat beliau yang menjadi teladan bagi kita melalui akhlak mereka yang mulia.

Sudah menjadi kewajiban seorang khatib untuk menyampaikan wasiat takwa dalam khutbahnya. Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan sebenar-benar takwa; menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan inilah sebaik-baik bekal hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Jamaah salat Jumat raḥimakumullāh

Di antara keistimewaan umat Nabi Muhammad Saw. adalah adanya malam Lailatul Qadar. Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3). Artinya, amal yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar lebih baik daripada amal pada seribu bulan yang tidak terdapat Lailatul Qadar di dalamnya. Pada malam itu dibagikan kebaikan yang sangat banyak, yang tidak terdapat bandingannya dalam seribu bulan.

Jika dihitung, seribu bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan. Sementara itu, umat Nabi Muhammad Saw. merupakan umat yang memiliki usia paling pendek dibandingkan dengan umat-umat terdahulu. Di Indonesia, rata-rata angka harapan hidup berkisar antara 73,9 hingga 74 tahun. Oleh karena itu, merupakan anugerah besar dari Allah bagi kita yang memiliki usia relatif pendek, namun pahala amal kita dapat melampaui batas usia tersebut.

Jamaah salat Jumat raḥimakumullāh

Timbul perselisihan pendapat di kalangan ulama tentang kapan Lailatul Qadar terjadi. Namun, pendapat mayoritas menyatakan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada bulan suci Ramadan.

Bulan Ramadan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sepuluh hari pertama, sepuluh hari kedua, dan sepuluh hari ketiga (terakhir). Nabi Saw. pernah mencari malam Lailatul Qadar sejak awal Ramadan, kemudian mencarinya pada tanggal 14, 17, dan 19 Ramadan. Akhirnya, beliau diperlihatkan bahwa malam tersebut berada pada sepuluh malam terakhir. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk mencari malam Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjilnya, dengan menggiatkan serta meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita di bulan suci Ramadan.

Jamaah salat Jumat raḥimakumullāh

Pada malam Lailatul Qadar para malaikat Allah turun dengan seizin-Nya untuk mengatur semua urusan (QS. Al-Qadar: 4).

“Urusan” apa yang dimaksud dalam ayat tersebut? Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsīr-nya mengatakan, “Para malaikat turun dari setiap langit, juga dari Sidratul Muntaha, dan Jibril dari tempat kediamannya yang berada di tengah-tengahnya menuju bumi. Mereka mengaminkan doa-doa manusia hingga terbit fajar. Mereka turun pada malam Lailatul Qadar dengan perintah Tuhan mereka karena setiap urusan yang telah Allah tetapkan dan putuskan pada tahun itu hingga tahun berikutnya.”

Sementara itu, Imam Qatadah, sebagaimana dikutip oleh Imam Ibn Katsir dalam Tafsīr-nya, mengatakan, “Pada malam [Lailatul Qadar] itu berbagai urusan ditetapkan serta ditentukan ajal-ajal dan rezeki-rezeki.”

Oleh karena itu, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam di mana Allah Swt. mengubah takdir seseorang.

1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button