Hidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan dengan Hati yang Bersih
Pendapat ini tidak sepenuhnya keliru jika kita memahaminya dalam konteks bahwa pada malam ini kita menghiasi diri dengan berbagai bentuk ketaatan, seperti puasa pada siang hari, memperbanyak membaca Al-Qur’an, salat malam, berzikir, melakukan kegiatan belajar-mengajar yang berbasis pada ketakwaan kepada Allah, serta amal-amal saleh lainnya. Semua itu dilakukan dalam rangka menyambut dan berusaha meraih malam Lailatul Qadar.
Jika upaya ini dilakukan oleh seseorang yang sebelumnya banyak melakukan maksiat, misalnya, maka hal itu merupakan perubahan yang sangat besar dalam hidupnya. Hatinya terbuka dan akhirnya ia bertobat kepada Allah Swt. Bukankah ini juga dapat disebut sebagai perubahan takdir? Tentu saja, semua itu merupakan hidayah dan taufik dari Allah semata.
Jamaah salat Jumat raḥimakumullāh
Perilaku raga merupakan cerminan keadaan jiwa (hati).
إذا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وإذا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ
“Jika ia (hati) baik, maka seluruh tubuh akan menjadi baik. Dan jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan menjadi rusak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Kita menyaksikan bahwa pada bulan Ramadan sebagian masyarakat menghiasi masjid-masjid. Ada pula di antara kita yang meningkatkan kuantitas ibadah. Namun, ada hal yang jauh lebih penting untuk diperhatikan dan ditingkatkan, yaitu kualitas ibadah itu sendiri.
إنَّ اللَّهَ لا ينظرُ إلى صورِكم ولا إلى أجسامِكم، ولَكن ينظرُ إلى قلوبِكم
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan tidak pula kepada tubuh kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim).
Hati merupakan poros segala perilaku manusia. Imam Al-Ghazali dalam Iḥyā’-nya mengatakan, “hati seharusnya menjadi pemimpin yang ditaati, sedangkan seluruh anggota badan menjadi pihak yang patuh terhadap perintah dan larangannya.”
Ada banyak penyakit hati yang harus ditangani agar hati menjadi sehat dan indah, sebagaimana raga menjadi sehat dan bugar jika penyakit-penyakitnya ditangani dan diobati. Di antara penyakit hati tersebut adalah hasad, ujub, dan takabur.
Jamaah salat Jumat raḥimakumullāh
Hasad adalah sikap seseorang yang menyukai hilangnya nikmat dari orang lain atau senang ketika musibah menimpa orang lain. Sementara itu, ujub adalah sikap seseorang yang membesarkan diri dan sifat-sifat yang ada pada dirinya—yang sebenarnya merupakan nikmat—serta bersandar kepadanya, sambil melupakan untuk menisbatkannya kepada Sang Pemberi nikmat, dan merasa aman dari hilangnya nikmat tersebut. Adapun takabur adalah sikap seseorang yang menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain dalam hal sifat kesempurnaan.
Penyakit-penyakit tersebut dapat menghapus pahala amal ibadah kita, sebagaimana sabda Nabi Saw.:
إن الحسدَ يأكلُ الحسناتِ كما تأكلُ النارُ الحطبَ
“Sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud, al-Baihaqi).






