OASE

Hikmah Ilahi di Balik Daya Ingat dan Lupa Manusia

Seseorang yang ingin memperoleh anugerah hikmah hendaknya terlebih dahulu memperdalam pengetahuannya, terutama pengetahuan tentang Allah.

Imam al-Ghazali dalam bukunya Al-Ḥikmah fī Makhluqāt Allāh mengatakan bahwa memahami hikmah Allah dalam penciptaan makhluk-Nya merupakan salah satu jalan untuk mengenal Allah dan memantapkan keyakinan kepada-Nya.

Hikmah Daya Ingat dan Lupa

Salah satu sifat yang paling dekat dengan diri manusia adalah keadaan lupa dan ingat. Kedua daya ini Allah ciptakan dalam diri manusia sebagai pembeda dari makhluk lainnya.

Melalui kemampuan mengingat, manusia dapat menyimpan pengalaman, membangun pengetahuan, dan menyadari jati dirinya. Adapun melalui lupa, manusia memperoleh ruang untuk pulih dari kesedihan dan tekanan batin.

Imam Ibn al-Qayyim dalam “Miftāḥ Dār al-Sa‘ādah” mengajak kita merenungi hikmah di balik anugerah daya ingat. Menurut beliau, kemampuan ini mengandung kemaslahatan yang sangat besar, karena tanpanya kehidupan manusia akan diliputi kekacauan.

Tanpa ingatan, seseorang dapat kehilangan pemahaman tentang hak dan kewajiban, tidak mampu membedakan antara yang diambil dan yang diterima, serta tidak dapat menyimpan kembali kesan dari apa yang pernah dilihat, didengar, dan diucapkan. Keadaan tersebut juga membuat manusia gagal mengenali perlakuan baik maupun buruk dari orang lain, tidak mengetahui hal yang berbahaya atau bermanfaat bagi dirinya, dan tidak dapat memahami ilmu meskipun belajar sepanjang hayat.

Ketiadaan daya ingat menjadikan pengalaman hampa, masa lalu tidak bernilai pelajaran, dan proses pendewasaan terhenti. Jika kondisi ini terjadi, hakikat kemanusiaan dapat tercerabut, sehingga manusia tidak lagi berbeda secara mendasar dari makhluk yang tidak berpikir.

Di sisi lain, Ibn al-Qayyim menegaskan bahwa lupa juga termasuk nikmat Allah SWT Seandainya tidak ada sifat lupa, manusia tidak akan dapat terhibur dari gangguan hidup, kesedihan tidak pernah sirna, dan hati tidak memiliki kesempatan untuk terlipur dari musibah. Tanpa lupa, duka tidak akan berakhir, permusuhan sulit padam, bahkan kenikmatan dunia tidak dapat dirasakan karena ingatan tentang penderitaan selalu hadir.

Lupa dan ingat, meskipun tampak saling bertentangan, pada hakikatnya berjalan beriringan dalam kehidupan manusia. Dengan sifat hikmah-Nya, Allah SWT menjadikan kedua daya ini memiliki kemaslahatan yang besar, menyeimbangkan keadaan batin, serta menopang keberlangsungan hidup manusia secara bermartabat.

Penutup

Hikmah dalam perspektif Islam merupakan anugerah ilahiah yang mengatasi hirarki pengetahuan manusia—dari data, informasi, hingga ilmu—karena ia menuntun pemahaman rasional menuju kebijaksanaan dalam amal yang berlandaskan iman.

Asmaulhusna Allah al-Ḥakīm menegaskan bahwa seluruh ketentuan Al-Qur’an dan penciptaan makhluk sarat dengan tujuan kemaslahatan yang paling sempurna, sehingga manusia tidak layak mengukur atau mempertanyakan hikmah Allah dengan standar akalnya yang terbatas.

Anugerah daya ingat dan lupa menjadi contoh nyata keluasan hikmah tersebut: ingatan menjaga keteraturan hidup, identitas, dan proses belajar, sedangkan lupa menghadirkan ruang pemulihan batin agar manusia mampu terus melangkah. Wallāhu a’lam.[]

Zuhaili Zulfa, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Islam, lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button