Hikmah Ilahi di Balik Daya Ingat dan Lupa Manusia
Salah seorang dosen Sains Data penulis pernah menjelaskan mengenai hirarki pengetahuan manusia. Beliau menegaskan bahwa data merupakan landasan dari keseluruhan proses mengetahui.
Kumpulan data yang telah diperoleh kemudian diolah melalui prosedur tertentu hingga menjadi informasi, terutama untuk menjawab pertanyaan yang bersifat deskriptif seperti apa, siapa, kapan, dan di mana.
Melalui tata cara yang sistematis dan metodis, informasi tersebut selanjutnya dianalisis untuk menerangkan bagaimana suatu hal bekerja atau berlangsung. Pada tahap inilah informasi meningkat menjadi ilmu pengetahuan.
Apabila ilmu itu dimanfaatkan secara tepat, bernilai, serta mempertimbangkan aspek etis guna menjawab pertanyaan mengapa dan apa yang seharusnya dilakukan, maka ia mencapai tingkatan hikmah.
Hikmah lazim diartikan sebagai kebijaksanaan. Sebagian ulama mendefinisikannya sebagai pengetahuan tentang nilai paling utama dari segala sesuatu, baik dalam ranah pemikiran maupun tindakan.
Hikmah juga dipahami sebagai perpaduan antara ilmu yang membimbing amal dan amal yang berlandaskan ilmu, sehingga keduanya saling menguatkan.
Dengan demikian, hikmah merupakan tingkatan tertinggi dalam hirarki pengetahuan manusia, karena tidak hanya berhenti pada pemahaman rasional, tetapi juga menuntun pada sikap yang bijaksana dan bertanggung jawab.
Asmaulhusna Allah: Al-Ḥakīm
Allah SWT memiliki salah satu asmaulhusna, yaitu Al-Ḥakīm, yang biasa diartikan “Yang Maha Bijaksana”. Kebijaksanaan Allah tentu tidak sama dengan kebijaksanaan manusia.
Sebagaimana dipahami dari uraian sebelumnya, apabila seseorang hendak mencapai tingkat bijaksana, terlebih dahulu ia harus menempuh tingkatan-tingkatan sebelumnya. Dengan kata lain, kebijaksanaan manusia diperoleh melalui usaha menuntut ilmu.
Sementara itu, Allah SWT tidak menyerupai makhluk-Nya (QS. Al-Syūrā: 11; Al-Ikhlāṣ: 4) dalam segala aspek, termasuk dalam hal kebijaksanaan. Sifat hikmah yang disandarkan kepada Allah merupakan sifat yang paling sempurna, karena Dia mengetahui ilmu yang paling abadi dan ilmu-ilmu-Nya tidak tergambar dalam benak manusia. Oleh karena itu, tidaklah tepat mempertanyakan kebijaksanaan Allah sebagaimana mempertanyakan kebijaksanaan manusia.
Dengan demikian, wajar apabila kita bertanya tentang manusia, seperti “bagaimana si A menjadi seorang yang bijaksana?” atau “apa yang membuat keputusan si A sedemikian bijaksana?” Namun, tidak wajar mengarahkan pertanyaan semacam itu kepada Allah SWT
Al-Qur’an sebagai Sumber Hikmah
Berdasarkan penjelasan tentang asmaulhusna Al-Ḥakīm di atas, dapat diketahui bahwa Al-Qur’an sebagai firman Allah merupakan sumber hikmah, karena seluruh kandungannya adalah petunjuk terbaik dalam mendatangkan kemaslahatan. Dengan bersandar kepada nama yang sama, makhluk-makhluk yang Allah ciptakan pun tidak luput dari hikmah-Nya.

