Indonesia 2026: Keazaman Moral, Cita-Cita Keadilan dan Harapan Bangsa
Harapan hanya akan tumbuh apabila kejujuran (ṣidq) dan amanah kembali menjadi etos kepemimpinan. Jika dimensi moral terus diabaikan, ketidakpercayaan publik akan punah, mengeras dan berpotensi melemahkan legitimasi negara.
Namun, jika 2026 dijadikan titik balik-di mana kebijakan dirumuskan dengan keberanian etis, ditegakkan tanpa pandang bulu, dan diarahkan pada kemaslahatan bersama-maka harapan akan pulih secara berkelanjutan.
Pastinya sejarah bangsa ini tidak akan mengingat seberapa banyak rencana diluncurkan, tetapi sejauh mana keadilan ditegakkan dan amanah dijaga. Dalam perspektif maqāṣid syarī‘ah, keberhasilan sejati adalah ketika kebijakan publik menghadirkan rahmat, mencegah kezaliman, dan membuka jalan bagi kehidupan yang bermartabat.
Tahun 2026 masih terbuka sebagai ruang pilihan. Ia dapat menjadi tahun pengulangan kesalahan, atau tahun pembaruan moral kebijakan. Pilihan itu berada di tangan para pemegang amanah hari ini.
Dan dalam Islam, setiap pilihan itu akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan Allah SWT. Pilihan ada di tangan kita seluruh elemen bangsa terutama para yang diberi amanah.[]
Rusli Abdul Roni, Dosen & Pengamat Sosial.






