SAKINAH

Ingin Rumah Tangga Samawa? Praktikkan Rumus Saling Mengalah ala Sahabat Abu al-Darda

Gadis itu hanya pamit meninggalkan ruangan dengan tenang, lalu kembali beberapa saat kemudian dengan mengenakan gaun yang baru. Amnah pun dinyatakan lulus dengan nilai sempurna dalam ujian karakter rahasia yang dipersiapkan Karim untuknya.

Pernikahan mereka akhirnya berlangsung dengan diliputi kebahagiaan yang sangat nyata. Pada suatu hari, Dr. Karim kembali ke rumah dari kliniknya dalam kondisi fisik yang sangat letih.

Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan kasar. Amnah dengan penuh perhatian segera menghampirinya untuk membantu menyeka wajah suaminya menggunakan handuk basah yang segar.

Amnah kemudian mengajaknya dengan lembut untuk berpindah istirahat di atas tempat tidur agar lebih nyaman. Namun, bukannya berterima kasih, Karim justru mendorong istrinya dengan kasar seraya membentak, “Biarkan aku seperti ini!”

Untuk pertama kalinya setelah enam bulan usia pernikahan mereka, Karim mendengar kalimat yang ketus keluar dari lisan istrinya, “Sebenarnya engkau bisa bersikap sedikit lebih lembut.” Ucapan itu seketika menghalau rasa lelahnya, lalu ia bertanya dengan penuh keterkejutan, “Astaga, apa arti kekasaran ini, dan di mana letak kesabaranmu yang menjadi alasan utamaku untuk menikahimu?!”

Amnah menjawab, “Kesabaranku?! Mari ikut denganku agar engkau tahu di mana letak kesabaranku.” Ia menarik suaminya ke dapur, lalu mengeluarkan sebuah meja kecil yang hancur dari bawah meja makan.

Amnah berkata, “Lihat, apa yang engkau saksikan di sini?” Karim menjawab, “Sebuah meja yang hancur berkeping-keping.” Karim melanjutkan, “Tetapi apa maksud dari semua ini?”

Amnah menegaskan, “Aku ingin memperlihatkan kepadamu bahwa aku adalah manusia biasa sepertimu; aku bisa bersikap setenang air saat rida, tetapi aku juga bisa mengamuk hingga mampu menghancurkan meja dengan gigiku saat marah.” Karim menyahut, “Hingga saat ini aku masih belum paham apa yang engkau inginkan.”

Amnah menerangkan, “Aku menghancurkan meja ini pada hari ketika engkau sengaja menumpahkan kopimu ke atas gaunku dahulu.” Ia menambahkan, “Aku ingin engkau tahu sekarang bahwa setiap aksi memiliki reaksi, dan setiap kesabaran pasti memiliki batasnya.”

Mendengar penjelasan tersebut, Karim berkata, “Engkau benar, engkau sangat benar.” “Meskipun demikian, mari kita sepakati metode yang diterapkan oleh sahabat yang mulia, Abu al-Darda r.a.,” ajak Karim kepada istrinya.

Ia menjelaskan bahwa Abu al-Darda pernah berpesan kepada istrinya: “Jika aku sedang marah maka redakanlah amarahku, dan jika engkau sedang marah maka aku pasti akan meredakan amarahmu… Karena jika kita tidak saling mengalah, kita akan segera berpisah.”

Amnah seketika tertawa lepas mendengar hal itu seraya berkata, “Atas prinsip inilah aku berjanji kepadamu.” Karim pun menutupnya, “Dan atas prinsip ini pula aku berjanji kepadamu.”[]

(Disadur dari karya Muhammad al-Majdhub, dalam Al-Arabiyyah Lin Nasyiin Jilid 6)

Laman sebelumnya 1 2 3 4
Back to top button