SAKINAH

Ingin Rumah Tangga Samawa? Praktikkan Rumus Saling Mengalah ala Sahabat Abu al-Darda

Manusia merefleksikan rasa kekurangan di dalam dirinya serta ruang hampa di dalam jiwanya yang tidak akan pernah dapat dipenuhi kecuali oleh kehadiran seorang wanita. Sentakan kesadaran kedua menghantam batin Karim saat ia menyimak sang penyiar membacakan sabda Rasulullah saw.:

“Wahai generasi muda, barang siapa di antara kamu yang telah mampu menikah, maka menikahlah…”

Karim mencoba membela diri di dalam hatinya bahwa ia tidak memilih melajang demi lari dari tanggung jawab atau keterikatan pernikahan. Langkah itu ia ambil murni karena belum menemukan sosok wanita yang memenuhi kriteria luhur berupa penyedia ketenteraman, rasa cinta, dan kasih sayang.

Ia berharap alasan tersebut dapat diterima sebagai uzur di hadapan Allah Swt. yang dapat mengeluarkannya dari barisan orang-orang yang menyelisihi sunah rasul-Nya. Namun, seluruh argumentasi pembelaan Karim seketika runtuh tanpa sisa.

Kini, tidak ada celah lagi untuk mengeluarkannya dari kategori maksiat kecuali dengan melangkah menuju pernikahan. Oleh karena itu, ia harus segera mencari calon istri dengan catatan tidak boleh melupakan tiga pilar utama pernikahan: sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Di antara barisan para siswi yang ada, Karim tidak sengaja memperhatikan seorang gadis yang penampilannya tampak menonjol dan berbeda dari rekan-rekan sejawatnya. Gadis tersebut mengenakan gaun yang panjang, berhijab rapi, serta memiliki gerak-gerik berjalan yang sangat sopan.

Karim seketika merasakan kedamaian batin saat melihatnya. Kebetulan, ayah dari gadis tersebut adalah seorang pedagang terhormat yang menjadi salah satu pasien favorit Dr. Karim yang kerap mengunjungi kliniknya.

Karim akhirnya membulatkan tekad untuk mengutarakan niat pernikahannya langsung kepada ayah gadis tersebut. Ketika sang ayah datang berkunjung ke kliniknya pada suatu hari, Karim sempat ragu dan kebingungan memilih kalimat yang tepat untuk membuka pembicaraan.

Kejutan besar terjadi ketika pria tua itu justru mendahuluinya dengan bertanya, “Apakah engkau tidak memiliki keinginan untuk menikah?” Karim yang sempat kebingungan menjawab akhirnya berkata, “Tentu saja aku ingin, tetapi…” Pria itu langsung memotong, “Jangan ragu, kami mungkin bisa membantumu.” Sebelum Karim sempat merespons, pria itu melanjutkan, “Aku memiliki seorang putri yang cocok untukmu, maka ikutlah bersamaku untuk melihatnya.”

Karim menjawab, “Aku akan berkunjung ke rumah Anda setelah isya, insyaallah.” Begitu melihat sosok gadis bernama Amnah tersebut, Dr. Karim langsung menemukan seluruh kriteria wanita yang diimpikannya.

Ia kembali ke rumahnya dengan perasaan puas dan rida yang mendalam. Di samping itu, sang pemilik rumah juga telah berjanji agar Karim bersedia datang melakukan kunjungan untuk yang kedua kalinya.

Karim kembali datang berkunjung untuk yang kedua kalinya dengan sebuah rencana tersembunyi untuk menguji kualitas akhlak Amnah. Saat Amnah menyajikan secangkir kopi untuknya, Karim dengan sengaja menumpahkan kopi panas tersebut tepat di atas gaun Amnah.

Ia segera berpura-pura meminta maaf atas insiden tersebut. Di luar dugaan, Amnah sama sekali tidak terpengaruh oleh kejadian itu dan tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan sedikit pun di wajahnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button