Ingin Rumah Tangga Samawa? Praktikkan Rumus Saling Mengalah ala Sahabat Abu al-Darda
Ibunya melanjutkan, “Jangan engkau halangi impianku ini, wahai Karim, maka biarkanlah aku menikahkankanmu.” Karim tertawa lalu berseloroh, “Ayahku juga memiliki impian yang serupa, lantas bagaimana jika aku mengabulkan keinginan kalian berdua sekaligus?”
“Dengan demikian, aku akan memiliki dua istri dalam satu waktu,” lanjut Karim bercanda. Ibunya menyahut dengan nada yang agak keras, “Tidak, tidak, hal itu tidak akan pernah terjadi!”
Karim membalas, “Jika begitu, mari kita tinggalkan urusan ini sampai…” Ibunya langsung memotong kalimatnya dengan nada sedih, “Sampai aku mati, bukankah begitu maksudmu?!”
Dialog serupa sering kali terjadi antara Karim dan ibunya, sementara ia tetap bersikeras untuk tidak menikah sama sekali. Seandainya ia ditanya mengenai alasan pastinya, ia sendiri tidak akan menemukan alasan yang benar-benar rasional.
Kendati demikian, ia sangat yakin bahwa perselisihan kedua orang tuanya yang terus-menerus terjadi, berpadu dengan krisis kepercayaannya terhadap karakter gadis zaman sekarang, menjadi faktor utama di balik pilihannya untuk hidup melajang. Ia sama sekali tidak dapat melupakan tabiat emosional ibunya yang menjadi sumber kesengsaraan di dalam rumah tersebut.
Meskipun ayahnya bukan tipe pria yang berdarah dingin, sang ayah dinilai jauh lebih penyabar daripada ibunya. Jika situasi rumah sudah sangat menyesakkan, sang ayah biasanya memilih pergi meninggalkan rumah untuk sementara waktu.
Sebenarnya Karim merasa tersiksa akibat menjauhkan diri dari wanita, terlebih ia memandang pernikahan sebagai sarana penyempurna diri. Baginya, pernikahan merupakan jalan alami untuk melahirkan generasi baru yang akan mengemban risalah Allah Swt.
Namun, cara pandangnya yang negatif terhadap karakter wanita zaman sekarang sama sekali tidak memotivasi dirinya untuk membangun rumah tangga. Alhasil, ia lebih memilih untuk mempertahankan status lajangnya dengan segala konsekuensi buruk yang menyertainya.
Sebagai seorang profesional, Dr. Karim tentu harus menyibukkan diri dengan beberapa hiburan yang positif. Hiburan yang paling ia sukai adalah memantau perkembangan sains serta mendengarkan ceramah keagamaan yang berkaitan dengan Al-Qur’an dan hadis melalui siaran radio.
Saat sedang mendengarkan radio pada suatu hari, tiba-tiba terdengar suara penyiar wanita yang sangat lembut dan menarik tengah membedah problematika yang serupa dengan masalah hidupnya. Siaran tersebut mengulas pandangan Islam dalam isu pernikahan dan hidup melajang, yang disarikan dari firman Allah serta hikmah rasul-Nya.
Karim seketika teringat akan perdebatan dengan ibunya terdengar begitu khusyuk saat penyiar membacakan firman Allah Swt. dalam Surat Ar-Rum [30] Ayat 21:
Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang… Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
Bagi Karim, momentum mendengarkan ayat tersebut rasanya seolah-olah ia baru pertama kali mendengarnya sepanjang hidup. Eksistensi kedua jenis kelamin manusia pada hakikatnya merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah Swt. yang hanya dapat ditangkap oleh orang-orang yang mau berpikir objektiif.
Di antara tanda-tanda tersebut adalah apa yang ditemukan oleh masing-masing pasangan pada diri pasangannya berupa ketenteraman (sakinah), rasa cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah). Seseorang dapat merasakan esensi tersebut melalui seluruh kesadaran eksistensi hidupnya.






