OPINI

Ini Soal Gaza, Bodoh!

Namun, terlihat pula bahwa rakyat Amerika tahun ini terbukti mampu dan bersedia menyingkirkan faksi tersebut. Alasannya terlihat sangat jelas. Mengutip ungkapan legendaris dari pakar strategi politik Partai Demokrat, James Carville: “It’s Gaza, stupid” (Ini soal Gaza, bodoh).

Skandal genosida Gaza telah mengubah sikap rakyat Amerika secara mendalam terhadap kebijakan luar negeri, perang, dan bantuan militer—terutama yang berkaitan dengan rezim Netanyahu.

Selama setahun terakhir, Trump dan para politisi lainnya memperburuk dampak genosida tersebut dengan memicu perang dengan Iran serta kampanye militer baru Israel di Lebanon. Semua itu terjadi ketika publik Amerika yang semakin antiperang menyaksikan dengan kemarahan bahwa uang pajak mereka digunakan untuk mendanai kekerasan.

Koalisi yang memenangkan Trump pada 2024 dibangun di atas penolakan terhadap apa yang ia sebut sebagai “perang tanpa akhir” dan “perang bodoh”. Saat berkampanye, ia bahkan berjanji untuk menghentikan kekerasan di Gaza. Ketika seorang pemilih di Dearborn, Michigan, bertanya kepadanya tentang genosida Gaza, Trump menjawab: “Itu harus dihentikan. Yang kita inginkan adalah perdamaian.” Oleh karena itu, dimulainya perang AS-Israel melawan Iran tahun ini merupakan bentuk pengkhianatan dan pemutarbalikan atas kehendak mereka yang memilih pemerintahan ini.

Partai Demokrat sebenarnya telah menerima peringatan serupa pada 2024. The Jerusalem Post melaporkan pada Februari bahwa pejabat Komite Nasional Demokrat (DNC) mengakui kebijakan pemerintahan Presiden Joe Biden soal Gaza berdampak negatif (net negative) pada pemilu tersebut. Kekalahan partai tersebut seharusnya menjadi peringatan bagi Partai Republik agar tidak menganggap kemarahan publik atas Gaza sebagai hal yang tidak relevan secara politik.

Bukan rahasia lagi bahwa perang ini kemungkinan besar tidak akan terjadi jika bukan karena desakan dari para agen Israel (termasuk Netanyahu sendiri) serta tokoh-tokoh neokonservatif seperti Lindsey Graham dan Mark Levin. Berbagai jajak pendapat menunjukkan penolakan publik Amerika yang terus meningkat terhadap aksi militer Israel. Jajak pendapat pada malam pemilu menunjukkan 62 persen pemilih secara tegas menyebut serangan bersama AS-Israel ke Iran sebagai tindakan yang “salah”, sementara 74 persen mengidentifikasi perang tersebut sebagai faktor penentu utama dalam pilihan mereka.

Secara umum, survei sepanjang tahun ini menunjukkan bahwa publik Amerika mengkhawatirkan keterjangkauan biaya hidup. Namun, isu “keterjangkauan biaya hidup” dalam benak publik selalu berkaitan dengan perang, dan perang berkaitan dengan pengaruh Israel, yang berakar pada genosida Gaza. Kebijakan militer tersebut mengabaikan beban pengeluaran pembayar pajak Amerika sebagaimana mengabaikan kesucian hidup warga Palestina yang tidak berdosa.

Kondisi ini belum memperhitungkan skandal lain yang berdampak langsung bagi umat Kristiani Amerika: kampanye pembersihan etnis oleh Israel di Tepi Barat, termasuk serangan terhadap komunitas Kristen kuno yang telah menetap di sana sejak abad pertama. Peristiwa ini diperkirakan menjadi isu sentral pada musim pemilu mendatang. Meminta warga Amerika menyambut Natal dengan sedikit atau tanpa umat Kristen tersisa di Betlehem akibat aksi pemukim yang didukung Israel dapat mengakhiri sisa-sisa kekuatan Partai Republik.

Dampak genosida Gaza dan efek berantainya terhadap kehidupan publik Amerika sangat nyata bagi mereka yang melihat secara jernih, meskipun tidak terlihat oleh sebagian kecil pengamat yang kurang memahami persepsi masyarakat umum.

Hal ini membawa pada pertimbangan akhir yang harus diingat oleh pimpinan kedua partai: koalisi yang dihimpun Trump dalam jumlah rekor dua tahun lalu adalah pihak yang memenangkan pemilu ini. Kemenangan tersebut bukan milik satu partai politik atau kelompok elite kecil yang mencoba mengatur koalisi tersebut seolah-olah buatan mereka sendiri.

G.K. Chesterton pernah mengamati bahwa jalan hidup masyarakat Amerika tidak didasarkan pada ambisi kelompok, identitas etnis, atau kompromi rapuh antar-kelompok. Sebaliknya, Amerika disatukan oleh keyakinan yang tertuang dalam Deklarasi Kemerdekaan—sebuah keyakinan akan martabat setiap manusia yang didasari penghormatan pada hukum alam dan Tuhan. Dengan cara inilah, tulis Chesterton, Amerika menjadi “sebuah bangsa dengan jiwa gereja”.

Kemarahan atas tragedi Gaza merupakan fenomena nyata yang berakar dari prinsip moral tersebut. Partai Demokrat tidak sepatutnya merasa aman dengan menganggap kemarahan ini milik partai mereka. Kemarahan ini milik rakyat Amerika yang menuntut pemimpin mereka untuk berhenti mendanai pembantaian orang-orang yang tidak bersalah.

Jika para politisi yang diberi mandat kekuasaan saat ini menolak untuk mendengarkan, mereka pun dapat digantikan. Tuntutannya tetap sama seperti saat disampaikan di Dearborn: Hentikan kekerasan.[]

Sumber: Aljazeera.com

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button