Iran, Musuh atau Sahabat?
28 Februari 1991 Amerika berhasil mengusir Irak dari Kuwait. Dan kemudian Amerika kemudian mendirikan pangkalan militernya di Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania dan Irak.
Hubungan Iran dengan dunia Islam memburuk ketika tragedi Suriah. Walaupun sekitar 70% penduduk Suriah adalah Sunni, penguasa Suriah berasal dari kelompok Alawi. Kelompok Alawi di Suriah ini memiliki kedekatan historis dengan tradisi Syiah. Apalagi ketika berlangsung perang Iran-Irak, Suriah adalah satu-satunya negara Arab besar yang mendukung Iran. Suriah juga sikapnya sama dengan Iran, yaitu anti Israel.
Karena itu jangan heran, ketika Bashar Assad mengalami masalah dalam negerinya ia minta bantuan ke Iran, selain ke Rusia (2011). Kerusuhan besar di dalam negeri yang mengakibatkan jumlah korban ratusan ribu orang itu, itu tidak membuat Bashar mundur, meski banyak kepala negaranya meminta mundur agar korban tidak lebih banyak lagi. Bashar yang kepala batu itu, baru mundur dan lari ke Rusia, setelah pasukan di bawah pimpinan Ahmad Sharaa menaklukkan Damaskus pada Desember 2024.
Tragedi Suriah ini mengakibatkan Iran banyak dibenci oleh dunia Islam, khususnya kaum Sunni. Diantaranya mereka berpendapat bahwa Iran (Syiah) tidak bisa dipercaya, mereka tega untuk membunuh kaum Sunni dalam jumlah besar. Kaum pembenci Syiah ini kemudian memaparkan sejarah pertentangan Sunni Syiah dalam sejarah Islam.
Memang bila menengok sejarah Islam, Syiah dan Sunni kadang damai dan kadang perang. Hal itu terjadi sejak di masa Ali bin Thalib, dimana para pendukung Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib ‘mengobarkan perang‘ karena pendirian masing-masing.
Tapi ada sejarah yang menarik di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ketika terjadi pertentangan keras antara pendukung Ali dan Muawiyah, Umar merasa resah. Ia kemudian memanggil para ulama untuk meredam pertentangan itu. Khalifah kemudian mengambil kebijakan bahwa para khatib Jumat dianjurkan pada khutbah kedua untuk membaca:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan (kebaikan), memberi kepada kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl 90)
Kebijakan yang diambil khalifah ini ditaati oleh para ulama Islam. Di negeri kita, banyak khatib mengakhiri khutbah kedua dengan membaca ayat yang mulia ini.
Hal ini sebenarnya bisa menjadi pelajaran pada kita. Bahwa meski banyak perbedaan antara Sunni dan Syiah, tapi dalam kehidupan masyarakat khususnya dalam politik lebih baik keduanya bersatu. Karena keduanya berkeyakinan Tuhan yang sama, Nabi yang sama dan Al Quran yang sama
Kini ketika Amerika dan Israel ingin menghancurkan Iran, dunia Islam harusnya bersatu membela Iran, sebagaimana sikap Hamas.
Politik Amerika (dan Israel) di Timur Tengah, adalah memecah belah negara Timur Tengah. Merangkul Saudi dkk dan mengucilkan Iran. Salah satu dokumen penting dari think-tank militer Amerika RAND Corporation (2008) menyatakan, “Divide and rule is also a possible strategy… the United States could capitalize on the Shia–Sunni conflict by siding with conservative Sunni regimes against Shiite movements.” (Pecah dan kuasai adalah strategi yang mungkin… Amerika dapat memanfaatkan konflik Sunni–Syiah dengan berpihak pada rezim Sunni konservatif melawan gerakan Syiah.”






