#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Iran yang Lemah Akan Berbalik Rugikan AS

Mendestabilisasi Iran berisiko memicu perpecahan internal, ketidakstabilan regional, dan guncangan ekonomi global.

Sistem politik Iran memiliki berbagai faksi yang saling bersaing, termasuk jaringan ulama konservatif, politisi reformis, serta unsur kuat dalam lembaga keamanan seperti Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Transisi kepemimpinan di Iran bukan sekadar soal satu penerus, melainkan keseimbangan kekuasaan antara lembaga keagamaan, jabatan terpilih, dan aparat keamanan.

Jika kepemimpinan yang ada melemah atau tersingkir dalam kondisi perang, keseimbangan tersebut bisa dengan cepat runtuh. IRGC—yang sudah menguasai sumber daya militer dan ekonomi yang sangat besar—dapat mencoba mengonsolidasikan kekuasaan, yang berpotensi mendorong Iran menuju tatanan politik yang lebih militeristik secara terbuka.

Selain itu, hampir tidak ada bukti bahwa serangan militer berkelanjutan akan menimbulkan sentimen pro-Amerika di kalangan rakyat Iran. Sejarah justru menunjukkan bahwa tekanan eksternal sering kali memperkuat nasionalisme daripada melemahkannya.

Invasi Irak pada 2003, misalnya, tidak menghasilkan sikap pro-Amerika, tetapi justru memicu kemarahan dan pemberontakan. Demikian pula, kampanye militer Israel yang berulang di Lebanon cenderung memperkuat dukungan terhadap Hezbollah, bukan melemahkannya.

Di luar Timur Tengah, ketidakstabilan di Iran juga dapat memicu arus migrasi besar. Iran saat ini sudah menampung jutaan pengungsi dari negara tetangga, terutama Afghanistan. Jika konflik internal pecah di Iran, bahkan sebagian kecil dari populasi Iran yang berjumlah lebih dari 90 juta orang yang mencari perlindungan ke luar negeri dapat menciptakan gelombang migrasi yang jauh lebih besar daripada krisis Timur Tengah sebelumnya.

Banyak dari para migran tersebut kemungkinan akan bergerak menuju Turkiye dan kemudian ke Eropa, menambah tekanan pada pemerintah yang sudah menghadapi krisis migrasi. Walaupun tampak jauh dari pantai Amerika, konsekuensi politik bagi sekutu-sekutu AS di Eropa pada akhirnya akan memengaruhi hubungan trans-Atlantik dan kohesi Barat.

Secara keseluruhan, berbagai risiko ini menunjukkan masalah strategis yang lebih luas. Melemahkan Iran mungkin tampak menarik dari sudut pandang militer yang sempit, tetapi mendestabilisasi kekuatan regional besar jarang menghasilkan hasil yang tertib dan terkendali.

Amerika Serikat pernah menghadapi dinamika serupa sebelumnya. Runtuhnya otoritas negara di Irak setelah 2003 tidak menghilangkan ancaman di kawasan—justru menciptakan ancaman baru. Fragmentasi Libya setelah 2011 menciptakan kekosongan keamanan yang berkepanjangan. Perang saudara Suriah berubah menjadi konflik multi pihak yang membentuk ulang politik seluruh kawasan.

Bagi Washington, pertanyaannya seharusnya adalah apakah konsekuensi jangka panjang dari mendestabilisasi Iran justru akan membuat kawasan dan dunia menjadi lebih berbahaya. Jika sejarah terbaru memberi petunjuk, mendestabilisasi Iran pada akhirnya bisa menciptakan ancaman yang justru ingin dihilangkan oleh Washington.[]

Sumber: Al Jazeera.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button