#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Iran yang Lemah Akan Berbalik Rugikan AS

Mendestabilisasi Iran berisiko memicu perpecahan internal, ketidakstabilan regional, dan guncangan ekonomi global.

Oleh: Alexander Clackson, Pendiri dan direktur Global Political Research Center.

Orang-orang berlari mencari keselamatan ketika asap membumbung setelah serangan udara di pusat Tehran, Iran, 5 Maret 2026. Operasi militer gabungan Israel dan Amerika Serikat terus menargetkan berbagai lokasi di Iran sejak dini hari 28 Februari 2026.

Para pendukung kampanye militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berpendapat bahwa melemahkan Teheran—dengan merusak kemampuan misilnya, melumpuhkan angkatan lautnya, serta mengurangi kemampuannya memproyeksikan kekuatan melalui sekutu regional—akan membuat Timur Tengah lebih aman. Namun strategi ini bertumpu pada asumsi bahwa Iran yang lebih lemah akan menghasilkan kawasan yang lebih stabil. Kenyataannya, mendestabilisasi salah satu negara terbesar dan paling strategis di Timur Tengah justru bisa melepaskan kekuatan-kekuatan yang jauh lebih berbahaya daripada kondisi yang ada sekarang.

Menurut pengarahan kepada staf Kongres di Washington, D.C., tidak ada intelijen yang menunjukkan bahwa Iran sedang merencanakan serangan terhadap Amerika Serikat. Namun eskalasi militer terus berlanjut dengan keyakinan bahwa melemahkan Iran pada akhirnya akan menguntungkan kepentingan AS. Jika asumsi ini terbukti keliru, konsekuensinya bisa sangat serius, bukan hanya bagi kawasan tetapi juga bagi kepentingan strategis Amerika.

Bahaya pertama adalah fragmentasi internal. Populasi Iran sangat beragam secara etnis. Meskipun bangsa Persia merupakan mayoritas, negara ini juga dihuni komunitas besar Azeri, Kurdi, Arab, dan Baloch, di antara lainnya. Beberapa kelompok ini telah memiliki sejarah ketegangan politik atau pemberontakan, termasuk aktivitas militan Kurdi di barat laut dan pemberontakan Baloch yang telah lama berlangsung di tenggara.

Selama ini negara pusat yang kuat sebagian besar mampu menahan garis-garis retakan tersebut. Namun jika struktur pemerintahan Iran melemah secara signifikan, ketegangan itu dapat meningkat. Hasilnya bisa menyerupai fragmentasi yang terlihat di beberapa negara Timur Tengah setelah tekanan militer eksternal atau runtuhnya rezim.

Sejarah terbaru memberikan contoh yang mengkhawatirkan. Di Irak, pembongkaran institusi negara setelah Invasi Irak 2003 oleh AS menciptakan kondisi bagi bertahun-tahun kekerasan sektarian dan pada akhirnya memunculkan ISIS. Runtuhnya negara di Libya pada 2011 membuat negara itu terpecah antara pemerintahan saingan dan milisi bersenjata, krisis yang masih berlangsung lebih dari satu dekade kemudian. Perang saudara di Suriah menghasilkan salah satu bencana kemanusiaan terburuk abad ini sekaligus menjadikan wilayah luas sebagai medan pertempuran milisi dan kelompok ekstremis.

Runtuhnya Iran akan menciptakan skenario yang bahkan lebih berbahaya. Populasinya jauh lebih besar daripada Irak, Libya, atau Suriah, dan wilayahnya berbatasan dengan berbagai kawasan rawan konflik. Munculnya faksi bersenjata, milisi etnis, atau kelompok pemberontak di dalam Iran dapat dengan cepat mengubah negara itu menjadi arena ketidakstabilan berkepanjangan.

Ketidakstabilan semacam itu tidak akan tetap bersifat lokal. Iran berada di jantung Teluk—salah satu koridor energi paling strategis di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati Selat Hormuz di sepanjang pantai selatan Iran. Faksi bersenjata, milisi saingan, atau kekuatan laut yang tak terkendali di sepanjang pantai Iran dapat mengganggu jalur pelayaran, menyerang kapal tanker, atau mencoba memblokir akses ke selat tersebut, mengubah krisis regional menjadi guncangan energi global.

Konsekuensinya akan melampaui Timur Tengah. Harga energi yang lebih tinggi akan merambat ke seluruh ekonomi dunia, memengaruhi biaya transportasi hingga inflasi. Para pembuat kebijakan Amerika sering melihat ketidakstabilan energi sebagai masalah regional, padahal kenyataannya masalah tersebut dengan cepat menjadi masalah global.

Konsekuensi strategisnya juga lebih luas. Saat ini Iran merupakan simpul penting dalam jaringan aliansi regional dan kelompok proksi yang mencakup Hezbollah di Lebanon, berbagai milisi di Irak, serta Houthi di Yaman. Para aktor ini beroperasi dalam kerangka yang, pada tingkat tertentu, dipengaruhi oleh Teheran. Jika negara Iran melemah secara drastis, struktur tersebut dapat terpecah.

Sebagian kelompok mungkin akan beroperasi secara independen, sebagian lain mungkin saling bersaing memperebutkan pengaruh, sementara yang lain bisa menjadi lebih radikal tanpa koordinasi pusat. Hasilnya adalah lingkungan keamanan yang jauh lebih tidak dapat diprediksi di seluruh Timur Tengah, yang akan membuat diplomasi semakin sulit dan konflik militer semakin sukar dikendalikan.

Risiko lain terletak pada ketidakpastian kepemimpinan. Beberapa pembuat kebijakan berasumsi bahwa melemahkan kepemimpinan Iran saat ini akan menghasilkan tatanan politik yang lebih moderat. Namun perubahan rezim jarang mengikuti skenario yang dapat diprediksi.

1 2Laman berikutnya
Back to top button