LAPSUS

Ironi Piala Dunia 2026: Kapitalisme AS Cekik Suporter, Eropa Kalah Daya Beli

Jiwa Sepak Bola yang Mulai Terkikis

Argumen terkuat untuk melawan kebijakan FIFA sebetulnya berakar pada masalah budaya, bukan sekadar sentimen anti-Amerika. Nilai luhur dari sepak bola tidak hanya diproduksi oleh stasiun televisi, korporasi sponsor, ataupun para pembeli kursi VIP di stadion.

Jiwa dan atmosfer pertandingan justru diciptakan oleh orang-orang biasa yang rela melakukan perjalanan jauh, bernyanyi tanpa henti di tribun, dan menghabiskan tabungan mereka demi sebuah perayaan. Merekalah yang membentuk kebudayaan sepak bola yang hidup hingga saat ini.

Marco Scialdone dari lembaga konsumen Euroconsumers memperingatkan arah kebijakan federasi dunia tersebut. Ia melihat FIFA mulai memperlakukan sepak bola layaknya barang mewah milik pribadi yang eksklusif.

Kekhawatiran tersebut sangat beralasan untuk sebuah turnamen yang selalu mengklaim dirinya sebagai milik semua golongan. Menariknya, gelombang kritik serupa juga muncul dari internal publik Amerika Serikat sendiri.

Pihak Penegak Hukum dari Jaksa Agung Negara Bagian New York dan New Jersey bahkan telah membuka penyelidikan resmi terhadap praktik penjualan tiket FIFA ini.

Sebuah survei dari lembaga Ipsos menemukan data riil mengenai persepsi publik Amerika Serikat terhadap isu ini. Sebanyak 59 persen warga lokal menganggap tiket Piala Dunia kali ini terlalu mahal bagi rata-rata kemampuan ekonomi mereka.

Angka ketidakpuasan itu melonjak hingga 76 persen di kalangan masyarakat yang memang memiliki rencana awal untuk menonton turnamen secara langsung. Pada akhirnya, hanya ada 1 persen warga lokal yang benar-benar berniat hadir langsung di dalam stadion.

Senada dengan itu, survei dari HarrisX juga menunjukkan bahwa 79 persen pemilih menganggap harga tiket berada di level yang tidak masuk akal. Selain itu, 68 persen responden menilai FIFA telah menyalahgunakan posisi monopolinya sebagai penyelenggara tunggal.

FIFA membela diri dengan menyatakan bahwa mereka adalah organisasi nirlaba yang mengembalikan keuntungan untuk perkembangan sepak bola global. Mereka mengklaim menginvestasikan kembali lebih dari 90 persen anggaran periode 2023–2026 yang bernilai 12,9 miliar dolar AS.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, berargumen bahwa tingginya harga tiket tersebut hanyalah cerminan dari kondisi riil pasar di kawasan Amerika Utara. Infantino mungkin benar mengenai mekanika pasar, tetapi kritik mendasar publik tertuju pada tanggung jawab moral institusinya.

Badan yang mengendalikan olahraga paling populer di jagat raya ini tidak bisa selamanya berlindung di balik hukum penawaran dan permintaan ekonomi. Stadion yang penuh sesak oleh kaum elite tetaplah sebuah kegagalan jika orang-orang biasa yang menjadi jiwa dari olahraga ini justru terasing di luar pagar akibat regulasi harga.

Sindrom Frustrasi ala NATO dalam Sepak Bola

Jika dicermati lebih mendalam, nada keluhan Eropa terhadap mahalnya biaya Piala Dunia ini terdengar mirip dengan dinamika politik geopolitik di Washington. Pola hubungannya serupa, yakni Amerika Serikat menyediakan panggung besar, sementara Eropa mengeluhkan urusan biaya operasionalnya.

Contoh paling konkret yang sering dikutip dalam perdebatan ini adalah urusan pendanaan pakta pertahanan NATO. Pemerintahan Donald Trump kerap menyindir negara-negara Eropa sebagai anggota yang hanya menumpang kemakmuran ekonomi dari anggaran militer Amerika Serikat.

Setelah mendapatkan tekanan politik yang hebat, negara-negara anggota NATO akhirnya sepakat untuk menaikkan belanja pertahanan mereka hingga 5 persen dari PDB. Kesepakatan strategis tersebut ditargetkan dapat tercapai sepenuhnya pada tahun 2035 mendatang.

Trump mengklaim kesepakatan tersebut sebagai kemenangan diplomatik yang besar bagi negaranya. Ia menyatakan bahwa selama ini Amerika Serikat telah menanggung beban finansial yang jauh lebih besar daripada bagian yang seharusnya ditanggung oleh negara sekutu.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button