Ironi Piala Dunia 2026: Kapitalisme AS Cekik Suporter, Eropa Kalah Daya Beli
Pertanyaan sinis pun muncul ke permukaan di tengah perdebatan Piala Dunia ini. Apakah orang-orang Eropa sekarang juga berharap bahwa hiburan sepak bola mereka harus disubsidi oleh kekuatan finansial Amerika Serikat, sebagaimana urusan pertahanan militer mereka selama ini?
Namun, aspek komersial ini nyatanya juga membuat gerah elite Amerika Serikat sendiri. Bahkan Donald Trump pernah menyatakan secara terbuka bahwa ia pribadi enggan membayar 1.000 dolar AS hanya untuk selembar tiket tribun atas pertandingan tim nasional negaranya.
Konsekuensi Pilihan Sistem Sosial Eropa
Eropa sebenarnya tidak memiliki kewajiban sama sekali untuk meniru setiap model kapitalisme ekstrem yang diterapkan oleh Amerika Serikat. Negara-negara Eropa telah lama memilih sistem kesejahteraan sosial, perlindungan tenaga kerja yang ketat, serta aturan perlindungan konsumen yang komprehensif.
Pilihan sistem tersebut tentu saja memiliki manfaat sosial yang sangat nyata bagi kualitas hidup masyarakat di sana. Namun, konsekuensi logis dari pilihan proteksi tersebut adalah pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dan daya beli masyarakat yang relatif lebih rendah.
Fakta ekonomi tersebut tidak akan bisa mengubah perhitungan bisnis ketika warga Eropa memutuskan membeli tiket di pasar internasional yang menggunakan standar dolar Amerika Serikat.
Untuk membenahi sengkarut ini, FIFA sudah sepatutnya bertindak lebih transparan mengenai kuota riil tiket yang dilepas ke pasar. Mereka harus menyediakan lebih banyak kursi yang benar-benar dapat diakses oleh kantong para penggemar kelas pekerja.
FIFA juga harus berhenti menggunakan jargon-jargon kosong mengenai “inklusi” jika pada praktiknya strategi kelangkaan dan harga tinggi justru mendepak suporter setia. Para penggemar Eropa tentu sangat benar dalam misi mereka untuk membela dan merawat jiwa murni sepak bola dari cengkeraman bisnis.
Namun, mereka keliru jika menganggap tagihan mahal ini semata-mata sebagai bentuk cacat moral dari bangsa Amerika Serikat. Ini adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah tontonan industri global yang juga sangat mereka inginkan.
Kebenaran yang tidak nyaman berada di antara kedua sudut pandang tersebut. Nilai tanpa harga adalah sebuah subsidi, dan dalam hukum ekonomi, selalu ada pihak yang harus membayar tagihan tersebut pada akhirnya.
Reporter: Editor Newsweek






