AKIDAH

Islam akan Tetap Mulia Walau Banyak yang Menghinanya

Sejak masa silam, selalu ada golongan dari kaum kafir dan munafik yang bekerja sama. Orang kafir melakukan konspirasi untuk merusak Islam dari luar, sementara orang munafik bertugas melakukan pendangkalan ideologi kaum muslimin. Mereka saling membisikkan kalimat indah, untuk menipu orang yang beriman.

Allah Ta’ala, berfirman:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيٰطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلٰى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah untuk setiap Nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 112)

Memang agama kita tidak akan jadi hina dengan hinaan. Tapi, justru kita yang jadi hina ketika diam saja melihat agama kita dinistakan. Islam itu agama mulia, pemeluknya juga mesti mulia. Islam itu agama agung, maka pemeluknya harus punya harga diri. Di mana harga diri kaum Muslimin ketika agamanya dicabik-cabik tapi dia diam saja? Tidak cocok agama yang agung dan mulia ini memiliki pemeluk yang pengecut dan hina. Inilah yang disebut izzah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah main-main ketika syiar-syiar agama dinistakan. Syiar-syiar itu adalah harga diri, lambang kehormatan. Agama ini sangat berharga, maka Allah dan Rasulullah menginginkan umatnya agar punya harga diri, kehormatan, dan izzah. Kalau umat ini tidak punya harga diri lagi, tidak mampu menjaga dan membela agama yang mulia ini, maka Allah siap menggantinya dengan umat lain yang layak mengemban misi mulia ini.

Allah Ta’ala, berfirman:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِينَ يُجٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۚ ذٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَآءُ ۚ وَاللَّهُ وٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 54)

Siapa yang meragukan kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Tapi ketika mendapatkan Ka’ab bin Asyraf, penyair yang menghujat Allah dan RasulNya (bukan pribadi Nabi tapi kerosulannya) dengan syair-syairnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat beliau, “Siapa yang akan membunuh untukku Ka’b bin Asyraf? Sesungguhnya dia telah menghina Allah dan Rasul-Nya.” Para sahabat dari Aus pun langsung mengeksekusinya.

Kisah diatas adalah satu diantara banyak kisah kisah tentang bagaimana orang orang terdahulu menjaga kemuliaan Islam, coba kita tengok zaman sekarang, ketika ada orang atau kelompok yang menghina Islam mereka seperti dibuat bebas leluasa bergerak seolah diberi kebebasan untuk terus menghina tanpa ada pengadilan yang menghukumnya, andai dihukumpun mendapat hukuman yang ringan.

Menjadi bukti bahwa mayoritas kita ternyata lemah dalam setiap perkara perkara yang merendahkan dan menghina Islam, tak mampu membelanya. Mengapa demikian? karena kita sudah tidak bergantung kepada Yang Maha Kuat.

Siapa saja yang bergantung dengan yang maha kuat, niscaya ia menjadi insan yang kuat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpegang dengan Allah, sehingga ia menjadi kuat. Dan demikian pula dengan kaum mukminin, mereka berpegang kepada Allah dan RasulNya, mereka menjadi insan insan yang kuat.

Inilah makna izzah dalam konsep imani, bangga diri dengan agama, dengan Allah, Rasul, amal shalih, ilmu yang bermanfaat, serta dakwah kepada Allah. Lihatlah, bagaimana konsep Islam mengangkat manusia dari permukaan bumi menuju ketinggian izzah. Menuju tingginya tekad. Kendatipun jasad-jasad mereka bersentuhan dengan yang ada di bumi, tetapi jiwa-jiwa mereka terikat dengan malail a’la (majelis yang paling tinggi), dengan kenikmatan-kenikmatan yang ada di sisi Allah. Jadi izzah milik Islam, Kemuliaan tetap milik Islam.

Wallahu a’lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button