RESONANSI

Domisil Moonow: Ketika Abon Kenangan Habis di Tengah Pelayaran

Oleh: M. Zainul Arifin

Abon ikan dalam sebuah toples besar menjadi salah satu teman baik bagi pelayaran kami menuju Pulau Lombok, si seribu masjid.

Setelah menjalankan program safari Ramadan di Desa Domisil Moonow, Kecamatan Sang Tombolang, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, kami (Tim Safari) harus berpisah dengan masyarakat desa.

Berat rasanya untuk berpisah setelah membangun jalinan kekeluargaan selama hampir dua setengah bulan, terhitung sejak 1 Februari sampai 12 April 2026. Waktu tersebut tentu bukanlah masa yang sebentar bagi kami semua.

Di perjalanan pulang yang panjang, khususnya saat mengarungi lautan biru, abon ikan tersebut turut memberi warna tersendiri. Abon itu bukan sekadar makanan siap saji biasa.

Abon tersebut seolah menuturkan kembali suaka-suaka kearifan masyarakat dan tanah Domisil Moonow. Saya, mewakili tim safari, menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Domisil atas dukungan moril maupun materil yang tidak mungkin dapat dihitung.

Kami berutang syukur yang tak terlunaskan kepada seluruh warga di sana. Untuk Kak Sindi, salah seorang warga Domisil, saya ucapkan terima kasih yang mendalam untuk abon ikan tersebut.

Abon itu telah menghibur perjalanan panjang kami, sekaligus menghiasi hidangan di atas kapal. Lidah kami merasakan rempah-rempah yang bersatu melukiskan kelezatan sejati.

Kelezatan serupa kami rasakan kala berdiri di tanah Domisil dahulu. Kala itu, kami merekam kehidupan masyarakat yang beragam suku dan marga tetapi mampu hidup rukun tanpa sekat pemisah.

Rempah-Rempah Kemajemukan

Rempah-rempah abon itu berdamai membentuk kelezatan yang khas. Hal tersebut sebagaimana masyarakat dengan beragam suku yang sepakat untuk menjaga kerukunan bersama.

Mongondow adalah suku asli yang mendiami wilayah tersebut. Di samping mereka, hidup rukun pula masyarakat dari suku berbeda, seperti Minahasa, Buol, Jawa, Bugis, Sanger, dan beberapa suku lainnya.

Tidak ada kata diskriminasi dalam kamus kehidupan mereka sehari-hari. Mereka hidup rukun bagai sebuah miniatur toleransi bersuku di Indonesia.

Selain suku yang tidak seragam, marga-marga juga turut memberi warna pada nama-nama masyarakat Domisil. Fenomena ini bagaikan rempah-rempah yang menjelma menjadi rasa yang kaya.

Di sana terdapat marga Manoppo, Pakaya, Ambarak, Olii, Tangkere, Mamonto, dan masih banyak lagi. Tidak semua tempat di Indonesia menyematkan marga pada nama masyarakatnya.

Barangkali, berdiri sebuah substansi luhur di balik marga yang perlu kita resapi bersama. Yang lebih menghidupkan rasa, marga pada nama tidak pernah bercerita tentang tingkatan status sosial seseorang.

Nama “Manoppo” tidak menjadikan pemiliknya merasa lebih tinggi dari pemilik nama “Tangkere” atau “Olii”. Derajat mereka semua tetap setara di mata hukum maupun sosial.

Di tanah Domisil, marga bukanlah simbol dari tingkatan kasta sosial. Semua orang sama dalam hal pemenuhan kewajiban dan haknya.

Hal itu bagaikan rempah-rempah yang mendapatkan tugas sama, yaitu menciptakan rasa. Sama halnya dengan manusia yang pada hakikatnya hanya mendamba takwa di hadapan Allah.

1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button