AKIDAH

Isra Mikraj sebagai Sumber Pelajaran (Bagian 2)

Isra sebagai Gambaran Perjalanan Kehidupan Manusia

Sebagaimana telah maklum, peristiwa Isra merupakan perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Setelah itu, beliau melakukan mikraj, yaitu perjalanan dari Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha.

Syaikh Nawawi al-Bantani dalam bukunya Nūr al-Ẓalām menyebutkan bahwa tangga yang digunakan Nabi Saw dalam peristiwa mikraj adalah tangga yang juga diperlihatkan kepada orang yang sedang menghadapi sakaratul maut ketika ruhnya keluar, dan melalui tangga itulah ruh-ruh orang beriman naik.

Baca juga: Isra Mikraj sebagai Sumber Pelajaran (Bagian 1)

Apabila hal ini dikaitkan dengan permulaan perjalanan Isra, maka hal tersebut memberikan kesan bahwa perjalanan Isra merupakan gambaran perjalanan kehidupan manusia, sejak kelahirannya di dunia hingga wafat.

Perjalanan itu dimulai ketika Nabi Saw dibangunkan dari tidurnya oleh para malaikat, kemudian hati beliau dibedah dan disucikan, serta dipenuhi dengan iman dan keyakinan. Hal ini memberikan isyarat tentang kelahiran manusia di dunia dalam keadaan fitrah, yakni hati yang masih murni dan beriman kepada Allah SWT, sebelum kemudian pendidikan orang tua dan lingkungan dapat memengaruhi serta menyimpangkannya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi Saw yang diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah r.a.:

ما مِن مَوْلُودٍ إلّا يُولَدُ على الفِطْرَةِ، فأبَواهُ يُهَوِّدانِهِ أوْ يُنَصِّرانِهِ أوْ يُمَجِّسانِهِ

“Tidak ada seorang bayi pun melainkan dilahirkan di atas fitrah; maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Setelah itu, Nabi Saw diberangkatkan dengan menaiki kendaraan yang disebut Burāq. Dalam perjalanan tersebut, beliau menjumpai berbagai peristiwa yang pada hakikatnya merupakan gambaran substansi realitas kehidupan. Di antaranya, beliau melihat kehidupan dunia yang digambarkan dalam sosok seorang perempuan yang menyingsingkan lengannya sehingga tampak perhiasan yang menggoda.

Beliau juga menjumpai seorang perempuan tua yang melambangkan usia dunia, yakni bahwa sisa umur dunia ini tidaklah panjang, sebagaimana sisa umur perempuan tua tersebut. Sebagian ulama memahaminya sebagai isyarat bahwa dunia tidak lama lagi akan binasa dan bahwa Nabi Muhammad Saw merupakan utusan Allah yang terakhir.

Selain itu, Nabi Saw menjumpai para penyulut fitnah yang digambarkan sebagai orang-orang yang menggunting lidahnya sendiri berulang kali, serta para pemakan riba yang digambarkan sebagai orang-orang yang memakan daging busuk dan meninggalkan daging yang segar.

Apa yang Nabi Saw saksikan dalam perjalanan Isra tersebut merupakan gambaran hakikat kehidupan dunia. Sepanjang perjalanan hidup manusia di dunia, sejak lahir hingga wafat, realitas semacam itu senantiasa dijumpai. Dunia dan segala perhiasannya begitu menggoda, sehingga tidak sedikit manusia berlomba-lomba meraihnya dengan berbagai cara, bahkan dengan mengabaikan batas-batas kemanusiaan. Kita juga menyaksikan beragam peristiwa alam yang secara tidak langsung memberi kesan bahwa bumi yang kita tempati telah memasuki usia tua.

Di samping itu, berbagai penyimpangan moral dan sosial yang marak terjadi dewasa ini sejatinya merupakan refleksi dari gambaran-gambaran simbolik yang diperlihatkan kepada Nabi Saw dalam peristiwa Isra, seperti merebaknya fitnah melalui lisan dan media, serta praktik-praktik ekonomi yang zalim dan mengabaikan nilai keadilan serta kemanusiaan.

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button