Isra Mikraj sebagai Sumber Pelajaran (Bagian 2)
Iman yang Terus Diuji
Allah SWT berfirman:
الٓمٓ ١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢
“Alif Lām Mīm. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabūt: 1-2).
Syaikh Wahbah al-Zuhaili dalam al-Tafsīr al-Munīr, saat menafsirkan ayat di atas, menjelaskan bahwa manusia tidak dibiarkan begitu saja setelah mengaku beriman tanpa mengalami ujian. Menurut beliau, pengakuan iman—seperti ucapan “Kami beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya”—harus dibuktikan melalui berbagai bentuk ujian dan beban kewajiban, seperti hijrah dan jihad di jalan Allah, menahan hawa nafsu, menunaikan kewajiban-kewajiban ketaatan serta fardu yang bersifat harta dan jasmani—seperti salat, puasa, haji, dan zakat—serta menghadapi beragam musibah yang menimpa diri, harta, dan hasil usaha. Semua ujian tersebut bertujuan untuk menampakkan perbedaan yang nyata antara mukmin yang tulus dan orang munafik, antara iman yang kokoh dan iman yang rapuh, sehingga Allah membalas setiap manusia sesuai dengan amal perbuatannya.
Terkait dengan ujian yang senantiasa menyertai perjalanan hidup manusia sebagaimana dijelaskan di atas, di sinilah letak pengujian sejati terhadap iman seorang mukmin. Berbagai godaan duniawi yang berpotensi melalaikan manusia dari mengingat Allah dan kehidupan akhirat menjadi medan ujian: apakah ia mampu menghadapinya dengan kesabaran dan keteguhan iman, atau justru terseret ke dalam kelalaian dan penyimpangan.
Pada titik inilah kualitas iman seorang mukmin benar-benar diuji, sebab iman tidak berhenti pada pengakuan lisan semata, melainkan terwujud dalam sikap batin yang melahirkan komitmen moral, keteguhan dalam ketaatan, serta kemampuan menahan diri dari berbagai bentuk godaan dan kezaliman.
Ujian demi ujian yang hadir dalam kehidupan—baik dalam bentuk kenikmatan maupun kesulitan—pada hakikatnya berfungsi sebagai sarana penyaringan iman. Melalui ujian itulah tampak siapa yang benar-benar bersandar kepada Allah dan siapa yang imannya goyah ketika berhadapan dengan realitas dunia.
Dengan demikian, perjalanan hidup seorang mukmin sejatinya merupakan proses pembuktian iman yang berlangsung secara terus-menerus, hingga akhirnya ia kembali kepada Allah SWT.
Penutup
Sebagai penutup, peristiwa Isra Mikraj menegaskan bahwa iman merupakan kunci utama dalam memahami ayat-ayat Allah dan membaca realitas kehidupan secara utuh, sebab tidak seluruh kebenaran dapat dijangkau oleh nalar dan pendekatan empiris semata.
Melalui peristiwa ini, Allah SWT memperlihatkan hakikat dunia beserta godaannya, menegaskan Islam sebagai agama fitrah yang selaras dengan tabiat manusia, serta menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak kelahiran hingga kembali kepada-Nya.
Seluruh simbol dan peristiwa yang disaksikan Nabi Muhammad Saw dalam Isra Mikraj mengajarkan bahwa kehidupan dunia adalah medan ujian iman, di mana manusia senantiasa dihadapkan pada pilihan antara ketaatan dan kelalaian, antara keadilan dan kezaliman.
Oleh karena itu, Isra Mikraj tidak sekadar menjadi peristiwa historis yang dikenang, tetapi sumber pelajaran spiritual yang hidup, yang menuntun seorang mukmin untuk meneguhkan iman, menjaga orientasi akhirat, dan menjalani kehidupan dengan kesadaran moral serta tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Wallāhu a’lam.[]
Zuhaili Zulfa, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Islam, lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.






