#Lawan IslamofobiaOPINI

Israel Pertaruhkan Islamofobia demi Selamatkan Posisinya di Barat

Pemerintahan Netanyahu menggunakan ketakutan terhadap Muslim untuk merangkul kelompok kanan Barat yang kian terbuka terhadap pesannya.

Dari Mana Asal Semua Ini?

Dari manakah semua ini berasal? Tentu saja, sebagian dari fenomena ini merupakan cerminan dari politik yang diusung Trump sejak hari pertama kampanye kepresidensiannya pada tahun 2015.

Politik tersebut bertujuan memecah belah rakyat Amerika dengan menanamkan anggapan bahwa mayoritas warga kulit putih dan posisi historis mereka di puncak hierarki sosial sedang terancam.

Dalam konteks ini, bukan hanya umat Islam yang diserang, melainkan seluruh kelompok minoritas.

Hal tersebut terbukti dari serangan pemerintahannya terhadap sejarah warga kulit hitam maupun kebudayaan Hispanik. Namun, dalam hal Islamofobia, terdapat pendorong yang lebih terarah di balik tren ini.

Pada bulan Januari tahun ini, pemerintah Israel menggelar konferensi antisemitisme di Yerusalem. Penyelenggaraan acara ini sebenarnya merupakan hal yang biasa terjadi. Namun, hal yang menarik perhatian adalah sosok para hadirin yang datang.

Mereka merupakan para pemimpin dari berbagai kelompok sayap kanan ekstrem Eropa, termasuk perwakilan dari PiS Polandia, Vox Spanyol, Fidesz Hungaria, dan Rassemblement National Prancis.

Acara tersebut mungkin menjadi perhimpunan terbesar kelompok sayap kanan Eropa untuk membahas antisemitisme sejak proses umerziehung (re-edukasi) yang dipimpin AS di Jerman pasca-Perang Dunia II.

Namun, kelompok sayap kanan ekstrem kini menjadi sekutu, sebagaimana yang disampaikan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kepada mereka, dalam perjuangan melawan “invasi Islam radikal”. Sejak bulan Januari, Netanyahu terus mengusung tema tersebut.

Baru-baru ini ia memperingatkan bahwa “republik Islam pertama yang memiliki senjata nuklir adalah Republik Islam Britania”.

Ia juga berkampanye untuk pemilihan kembali dirinya di bawah papan reklame bertuliskan “Jangan Biarkan Mereka Menang”.

Papan reklame itu menampilkan wajah para pemimpin Hizbullah dan Iran di samping foto Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan serta Wali Kota New York Zohran Mamdani.

Promosi Islamofobia oleh Israel tidak terbatas pada Netanyahu seorang, dan tidak berhenti di batas wilayahnya sendiri.

Seiring reputasi Israel yang kian hancur, alih-alih mengevaluasi tindakannya (terutama di Gaza), Israel justru memutuskan bahwa penyelamatannya terletak pada kampanye propaganda dan hubungan masyarakat yang lebih efektif.

Sebagian dari upaya ini diwujudkan untuk mendongkrak reputasinya sendiri. “Hubungan AS-Israel mendorong stabilitas,” demikian bunyi pesan teks otomatis yang baru-baru ini diterima oleh jutaan warga Amerika, termasuk saya, melalui perusahaan yang dikontrak Israel, Clock Tower X.

Namun, Israel juga mengambil langkah ofensif dengan berupaya menjatuhkan dan memisahkan legitimasi para pengkritiknya.

Selain itu, Israel merangkul kelompok sayap kanan melalui kampanye Islamofobia yang terencana.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button