Israel Pertaruhkan Islamofobia demi Selamatkan Posisinya di Barat
Pemerintahan Netanyahu menggunakan ketakutan terhadap Muslim untuk merangkul kelompok kanan Barat yang kian terbuka terhadap pesannya.
Strategi tersebut kemungkinan berpatokan pada studi bocor yang diminta oleh Kementerian Luar Negeri Israel dari firma hubungan masyarakat AS, Stagwell Global.
Studi itu menemukan bahwa taktik paling efektif untuk mengubah opini publik adalah dengan memicu ketakutan terhadap “Islam Radikal” dan “Jihadisme”.
Namun, di tengah ketiadaan alasan kuat mengapa AS harus terus mendukung negaranya, Netanyahu kian bersandar pada argumen bahwa Israel adalah “model dalam perjuangan melawan Islam radikal yang mengancam seluruh dunia beradab”, sebagaimana klaimnya mengenai pernyataan para pemimpin asing kepadanya.
Hal ini terwujud dalam pemanfaatan Islamofobia yang kian ganas oleh Israel sebagai bagian dari strategi hasbara-nya.
Sebagai contoh, di Kanada pada tahun 2024, sebuah operasi pengaruh yang didanai pemerintah Israel dengan menggunakan nama United Citizens for Canada menjalankan kampanye media sosial.
Kampanye tersebut mengklaim bahwa imigran Muslim di negara itu menimbulkan ancaman bagi masyarakat dan berusaha menerapkan hukum Islam.
Dalam banyak kasus, warga Amerika dan Eropa mampu melihat kejanggalan di balik upaya-upaya tersebut.
Kemenangan terbaru dalam pemilu primer bagi kandidat kongres Muslim terkemuka seperti Abdul El-Sayed menunjukkan penolakan lintas komunitas terhadap retorika Islamofobia. Namun, di bidang-bidang lain, komunitas Muslim kian merasa tertekan.
Masyarakat Israel didasarkan pada supremasi Yahudi dan upaya mencapai homogenitas demografis. Sebaliknya, negara-negara Barat semakin beragam, baik dari segi demografi maupun kepemimpinannya.
Meskipun jalan menuju perdamaian bagi Israel adalah jalan yang membuat Israel lebih menyerupai Barat—sebuah negara dengan kesetaraan bagi seluruh rakyatnya—inti dari kampanye propaganda saat ini adalah keinginan untuk membuat Barat lebih menyerupai Israel.
Hal ini menjadi ujian bagi pluralisme Barat. Namun, jikapun Barat gagal dalam ujian tersebut, Israel tidak boleh berasumsi bahwa kegagalan itu secara otomatis akan mengarah pada penerimaan terhadap Zionisme.
Ketakutan dan kebencian adalah alat yang ampuh, dan kampanye Islamofobia saat ini kemungkinan akan menimbulkan bahaya yang lebih luas dan mendalam.
Namun, bahkan untuk tujuan utamanya—yaitu menahan kemerosotan dukungan di benteng terakhir opini publik sayap kanan Barat—masih jauh dari pasti bahwa strategi tersebut akan berhasil.
Sementara itu, warga Eropa dan Amerika sebaiknya menyadari fenomena ini secara jernih: sebuah operasi pengaruh asing yang putus asa dari negara yang kian kehabisan pilihan.[]
*Josh Paul adalah pendiri pendamping A New Policy, sebuah organisasi politik dan lobi nirlaba nonpartisan yang berfokus pada perubahan kebijakan AS terhadap Palestina dan Israel. Sebelumnya, ia menjabat dalam berbagai peran keamanan nasional AS hingga mengundurkan diri dari Departemen Luar Negeri pada 2023 sebagai bentuk protes atas situasi di Gaza.






