Israel Tidak Peduli Hukum Internasional
Sejarah ini tidak menyelesaikan pertanyaan hukum yang kini ada di Mahkamah Internasional, tetapi memperumit cara Israel menggambarkan koalisi tersebut. Negara-negara yang kini menekan penegakan hukum internasional, dalam beberapa kasus, adalah negara yang selama puluhan tahun mengalami impunitas yang didukung Israel.
Momen saat ini juga menambahkan ironi sejarah lainnya. Serangan pada 28 Februari terhadap Iran telah memberi sorotan baru pada Putra Mahkota Reza Pahlavi, pewaris dinasti Pahlavi, yang berterima kasih kepada Trump karena telah “menyerang rezim yang mengerikan” dalam apa yang ia sebut sebagai “intervensi kemanusiaan”.
Pada April 2023, dalam kunjungan resmi ke Israel yang diatur oleh menteri intelijen Israel, Pahlavi berbicara tentang menghidupkan kembali “ikatan kuno” antara rakyat Israel dan Iran serta mempromosikan “Cyrus Accords” untuk memulihkan hubungan.
Di bawah pemerintahan ayahnya, Iran merupakan salah satu mitra ekonomi terpenting bagi Afrika Selatan pada masa apartheid. Pada 1978, Iran memasok lebih dari 90 persen impor minyak mentah Afrika Selatan, sehingga melemahkan embargo minyak Arab yang menjadi salah satu alat tekanan utama komunitas internasional terhadap Pretoria.
Sejarah inilah – tentang kerangka hukum yang diterapkan secara selektif dan isolasi internasional yang hanya dikenakan pada sebagian negara – yang ingin diatasi oleh The Hague Group. Pernyataan kelompok tersebut pada 4 Maret menegaskan bahwa negara-negara kini menghadapi pilihan antara keterlibatan dalam pelanggaran atau kepatuhan pada hukum internasional.
Kelompok itu memperingatkan bahwa jika negara-negara tidak bertindak sekarang untuk “memberi gigi pada hukum internasional”, maka kerangka hukum yang mengatur tatanan global tidak akan lebih berharga dari kertas tempat ia ditulis.
Jika hasil pertemuan yang berlandaskan kepatuhan pada hukum internasional justru diukur oleh Israel dan sekutunya dengan “keberhasilan” sebuah kapal yang dibom, maka konsep hukum internasional itu sendiri pada dasarnya sudah dibakar.
Tidak ada momen yang lebih mendesak daripada sekarang untuk meminta pertanggungjawaban mereka yang membakar tatanan dunia berbasis aturan. []
Sumber: Al Jazeera






