LAPSUS

Itamar Ben-Gvir: Wajah Kanan Keras Israel atau Wajah Israel?

Ia beberapa kali membanggakan di media sosial bahwa kondisi tahanan Palestina yang sudah sangat buruk menjadi semakin berat. Banyak di antara tahanan itu ditahan tanpa dakwaan resmi oleh otoritas Israel.

Ia juga membela praktik-praktik yang menurut para pengkritiknya mencakup pemerkosaan dan kelaparan paksa terhadap tahanan. Pada saat yang sama, ia mengancam akan menjatuhkan koalisi pemerintahan jika operasi militer di Gaza dikurangi.

Ia juga berulang kali memimpin kunjungan ke kompleks Masjid Al-Aqsa, salah satu situs tersuci dalam Islam, meskipun bertentangan dengan kebijakan resmi pemerintah.

Setelah serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, Ben-Gvir mengawasi peningkatan besar dalam penerbitan izin senjata bagi para pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki.

Menurut laporan berbagai pihak, sejak saat itu kekerasan mematikan terhadap warga Palestina meningkat secara signifikan.

Pada April lalu, kemarahan internasional kembali muncul ketika Ben-Gvir terlihat memegang sebotol sampanye sambil merayakan lolosnya rancangan undang-undang yang menjadikan hukuman mati sebagai hukuman standar bagi warga Palestina yang dihukum di pengadilan militer atas serangan mematikan.

Mantan penasihat pemerintah Israel, Daniel Levy, mengatakan bahwa banyak kritik terhadap perlakuan Ben-Gvir terhadap para aktivis Sumud sebenarnya lebih fokus pada gaya dan pertunjukan politiknya daripada pada perlakuan yang mereka alami selama ditahan.

“Masalah yang dikritik adalah Ben-Gvir yang mengunggah video, bukan cara mereka memperlakukan para aktivis armada, para pemukim, apalagi warga Palestina,” katanya. “Tidak ada perubahan kebijakan sama sekali,” lanjut Daniel Levy.

“Tidak ada yang mempertanyakan apa yang sebenarnya dilakukan di Gaza, Tepi Barat, armada kemanusiaan, Lebanon, dan sebagainya,” tambah Daniel Levy. “Yang dipersoalkan hanyalah gaya seorang menteri,” tegas Daniel Levy.

Meski mendapat kecaman internasional, basis dukungan Ben-Gvir tampaknya tetap kuat di tingkat domestik. Sementara popularitas Smotrich disebut mulai menurun, Ben-Gvir masih mempertahankan dukungan yang signifikan dari para pemilih.

Namun, analis politik Israel Dahlia Scheindlin menilai bahwa posisi politik Ben-Gvir sebenarnya tidak jauh lebih ekstrem dibanding banyak tokoh di partai penguasa, Likud.

Menurut Scheindlin: “Ben-Gvir mewakili politik populis kanan-jauh yang supremasis Yahudi, dengan gaya teatrikal dan provokatif yang mirip dengan politisi nasionalis-populis di berbagai negara.”

“Para pendukungnya bisa berasal dari kalangan sekuler, tradisional, maupun religius yang percaya bahwa ancaman dari Palestina hanya dapat dihadapi melalui kekuatan dan penghinaan,” tambah Scheindlin.

Ben-Gvir diundang untuk menanggapi berbagai poin dalam artikel ini, tetapi hingga artikel diterbitkan ia belum memberikan tanggapan apa pun. []

Sumber: Al Jazeera

Laman sebelumnya 1 2 3 4
Back to top button