Jejak Rakyat di Panggung Dunia
Ada sebuah pemandangan yang semakin sering kita saksikan: orang-orang biasa, dengan segala keterbatasan mereka, justru tampil sebagai pemenang dalam medan yang biasanya didominasi elite.
Di balik wajah yang mungkin tak masuk televisi saban malam, ada kisah perjuangan yang menyalakan harapan, bahkan melampaui panggung kekuasaan dan keistimewaan. Mereka inilah yang layak disebut “rakyat mengalahkan elite.”
Lihatlah kisah Delima Silalahi, perempuan Batak dari Sumatra Utara yang dengan gigih memperjuangkan hak tanah adat bagi komunitasnya. Bertahun-tahun ia melawan klaim perusahaan yang merambah hutan. Hasilnya bukan main-main: sekitar 7.213 hektar hutan adat di Tano Batak kini kembali ke pangkuan enam komunitas adat. Atas konsistensinya, Delima diganjar Goldman Environmental Prize 2023, penghargaan prestisius dunia bagi pejuang lingkungan.
Angka yang dicapai memang “hanya” ribuan hektar, bukan puluhan ribu, tapi dampaknya jauh lebih luas: memulihkan martabat masyarakat adat, sekaligus mengingatkan bahwa hutan bukan sekadar deretan pohon untuk ditebang, melainkan ruang hidup yang menyatu dengan identitas.
Kisah lain datang dari Kalimantan Tengah. Salsabila Khairunnisa, yang baru berusia 15 tahun ketika mendirikan komunitas Jaga Rimba, memilih jalan sunyi melawan ekspansi sawit yang merangsek ke hutan Kinipan. Apa yang bisa dilakukan seorang remaja di hadapan raksasa bisnis perkebunan? Ternyata banyak.
Salsabila berhasil menggerakkan generasinya, menyuarakan keresahan lewat aksi, tulisan, hingga forum-forum internasional. Pada 2020, namanya masuk daftar BBC 100 Women—sebuah pengakuan global bahwa suara remaja perempuan dari pedalaman Kalimantan mampu menembus tembok-tembok besar yang biasanya hanya ditembus elite.
Sementara itu, Saur Marlina Manurung, yang akrab dipanggil Butet, menggarap medan yang berbeda: pendidikan. Melalui Sokola Institute, ia membangun metode literasi berbasis budaya lokal. Anak-anak komunitas adat diajari membaca bukan dengan diktat kaku, melainkan lewat kisah yang dekat dengan hutan, sungai, dan tradisi mereka. Usaha panjang itu akhirnya mendapat pengakuan dunia, ketika Sokola meraih UNESCO Confucius Prize for Literacy 2024.
Lagi-lagi, yang lahir dari akar rumput mampu menginspirasi dunia. Di tengah elite pendidikan yang sering sibuk dengan kurikulum global dan target nilai, Butet justru menunjukkan bahwa pendidikan sejati bermula dari tanah tempat kaki berpijak.
Narasi serupa juga muncul dari dunia seni. Khozy Rizal, sineas muda dari Makassar, membuktikan bahwa kisah sederhana tentang kehidupan sehari-hari bisa menembus panggung megah Festival Film Cannes. Film pendeknya, “Basri & Salma dalam Komedi Tak Pernah Berakhir”, bukan saja diputar di ajang bergengsi itu, tapi juga menjadi film pendek Indonesia pertama yang masuk nominasi Short Film Palme d’Or.
Tak ada dukungan dana miliaran, tak ada nama besar industri film di belakangnya. Hanya ide, kegigihan, dan keyakinan bahwa cerita orang kecil juga layak didengar dunia. Di sini, elite industri film yang kerap memonopoli layar seakan tersingkir oleh suara sederhana dari lorong-lorong Makassar.
Dari arena olahraga, muncullah Veddriq Leonardo, atlet panjat tebing asal Pontianak. Ia mengibarkan Merah Putih di Olimpiade Paris 2024 setelah meraih medali emas di nomor speed climbing. Catatan waktunya, 4,75 detik, menjadi rekor kecepatan yang membuat lawan-lawannya terperangah. Prestasi itu terasa kontras dengan minimnya sorotan media arus utama sebelum keberhasilannya.






