RESONANSI

Jejak Rakyat di Panggung Dunia

Di negeri yang terlalu sibuk mengukur kejayaan lewat sepak bola dan bulutangkis, seorang anak dari Kalimantan Barat diam-diam menorehkan emas Olimpiade. “Orang biasa” kembali mengalahkan “elite” dalam gelanggang yang sesungguhnya.

Apa benang merah dari semua kisah ini? Satu hal menonjol: mereka bergerak bukan karena jabatan, bukan karena modal, melainkan karena keyakinan. Mereka tidak punya akses ke ruang-ruang kekuasaan, tapi memiliki tekad untuk melawan ketidakadilan dengan cara masing-masing. Elite sering kali memonopoli mikrofon, tapi ketika suara rakyat bersih, konsisten, dan tulus, gema yang lahir justru melampaui tembok-tembok kekuasaan.

Tentu, kemenangan rakyat bukan berarti elite selalu salah. Namun, ada pelajaran penting di sini: perubahan sejati sering kali datang dari bawah, dari mereka yang setiap hari bersentuhan dengan masalah nyata. Di situlah keberanian dan solidaritas menemukan bentuknya.

Dari hutan Tano Batak, dari dusun di Kinipan, dari tenda belajar di pedalaman, dari lorong Makassar, hingga dinding panjat Olimpiade Paris—rakyat sedang menunjukkan bahwa mereka bisa, bahkan tanpa restu elite.

Pada akhirnya, apa yang ditunjukkan Delima, Salsabila, Butet, Khozy, dan Veddriq adalah refleksi tentang siapa sebenarnya yang memegang kunci perubahan. Barangkali, elite memiliki kuasa, tapi rakyat punya keteguhan. Dan dalam sejarah, keteguhan itulah yang kerap menang.[]

Muhibbullah Azfa Manik

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button