RESONANSI

Kampus Komputer yang Dahulu Emas, Kini Terjerat “Limbah” Lulusan

Menurut data tahun 2023, hanya 16 persen lulusan ilmu komputer yang berhasil memasuki dunia kerja sebagai pengembang perangkat lunak atau profesi di bidang IT. Sisanya? Hilang dalam statistik: menjadi admin online shop, sales asuransi, atau kembali ke kampung halaman tanpa pekerjaan jelas.

Industri yang Kejam, Kampus yang Terkebelakang

Di sisi lain, industri teknologi juga tidak bisa lepas tangan. Permintaan mereka melonjak tajam, tapi ekspektasi mereka terhadap fresh graduate seringkali tidak realistis. Mereka mencari unicorn: lulusan muda dengan pengalaman tiga tahun, menguasai lima bahasa pemrograman, paham cloud computing, mahir machine learning, dan siap lembur tanpa batas. Semua itu dengan gaji junior.

“Dunia kerja ingin ready-to-use developer. Tapi kampus butuh waktu empat tahun untuk membentuk karakter akademis. Titik temu itu yang hilang,” ujar Dr. Arif Rahman, pengamat pendidikan tinggi yang sering menjadi narasumber kebijakan, dalam wawancara via telepon, Senin pekan lalu.

Stella menegaskan bahwa pemerintah, melalui Kementerian, sedang berupaya memotong mata rantai ini. Kurikulum Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) yang digagas Nadiem Makarim—dan kini terus disempurnakan di era Stella—mencoba memaksa mahasiswa keluar dari menara gading kampus lebih awal. Mereka didorong magang, membuat proyek nyata, bersentuhan langsung dengan industri.

Tapi implementasinya timpang. Pada MSIB Batch 7 yang digelar pertengahan 2024, tersedia sebanyak 369 mitra magang. Sementara dalam program Magang Berdampak yang pendaftarannya dibuka sejak 16 Juni-11 Juli 2025, hanya terdapat 17 mitra magang.

“Kampus-kampus besar sudah bisa kirim mahasiswa magang ke startup unicorn. Bagaimana dengan kampus di daerah? Mereka harus berjuang lebih keras untuk memberikan pengalaman yang setara,” akui Stella jujur.

AI: Penyelamat atau Pembunuh Karier?

Ironi terbesar datang dari teknologi yang seharusnya menjadi lapangan kerja baru: kecerdasan buatan. “Kemajuan AI telah meningkatkan kekhawatiran tentang stabilitas pekerjaan jangka panjang bagi para profesional di industri ini,” demikian catatan CBS News.

Jensen Huang, CEO Nvidia, bahkan pernah menyarankan anak muda untuk tidak terlalu fokus pada coding. “Komputer harus bisa memahami apa yang manusia inginkan. Manusia hanya perlu memberikan perintah dengan bahasa manusia,” katanya dalam sebuah forum teknologi tahun lalu.

Pernyataan itu menggemparkan. Jika benar, lalu untuk apa ratusan ribu mahasiswa menghabiskan empat tahun belajar algoritma dan struktur data?

Bryan Driscoll, konsultan SDM di Amerika, memberikan analisis tajam: “Kita telah memproduksi terlalu banyak gelar tanpa mengatasi betapa eksploitatif dan tertutupnya jalur perekrutan di industri teknologi.” Peran tingkat pemula semakin menghilang, magang tanpa bayaran masih marak, dan perusahaan memindahkan pekerjaan ke luar negeri atau mengotomatisasinya—persis pekerjaan yang harusnya menjadi medan latihan para lulusan baru.

Merana, Tapi Tidak Boleh Putus Asa

Kata “merana” yang digunakan Stella mungkin terdengar pesimis, tapi di baliknya ada panggilan untuk bangun. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan—kampus, industri, pemerintah, dan mahasiswa sendiri—untuk tidak lagi bermain dalam ilusi masa lalu.

Bagi para mahasiswa yang kini merasa terpuruk, Stella menitipkan pesan yang sederhana namun menohok: “Jangan hanya andalkan ijazah. Ijazah itu tiket masuk, bukan jaminan kursi. Skill nyata, portofolio, dan kemampuan adaptasi adalah mata uang baru.”

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button