OPINI

Kegagalan Rencana Trump di Iran

Ketidakrelevanan Strategi “Bom Dulu, Pikir Kemudian”

Pembunuhan para pemimpin Iran justru memperkuat kekuasaan Korps Garda Revolusi Islam. Dengan kata lain, strategi “bom dulu, pikir kemudian” ala Trump adalah resep sempurna untuk memperkuat musuh sekaligus menghancurkan posisi tawar sendiri.

Lebih jauh, Roth menunjukkan bahwa Trump kini sangat terdesak oleh kepentingan politik domestik—bukan oleh idealisme melucuti senjata nuklir Iran.

Obsesi membuka kembali Selat Hormuz semata-mata didorong oleh kebutuhan menurunkan harga bensin sebelum pemilu November.

Akibatnya, Trump mengorbankan isu-isu utama yang semula menjadi alasan perang, seperti program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok proksi regional.

Ia bahkan menyetujui tuntutan Teheran agar gencatan senjata baru mencakup penghentian serangan Israel di Lebanon selatan.

Perjanjian damai Trump saat ini adalah kekalahan diplomatik yang telak. Posisi tawar AS jauh lebih baik dan berada di atas pada Februari lalu sebelum perang pecah.

Kini, setelah menguras stok senjata AS dan mengucurkan miliaran dolar untuk kampanye militer yang gagal, Trump harus menerima kesepakatan yang pada dasarnya hanya mengembalikan situasi ke status quo, namun dengan konsesi yang lebih besar kepada Iran. Artinya, Iran saat ini berada di atas angin berkat kesabaran dan perhitungan yang matang.

Hal tersebut patut menjadi pelajaran bahwa terburu-buru menyerang suatu negara tanpa perhitungan yang tepat justru dapat memalukan diri sendiri, menguras sumber daya negara, serta merusak bangsa lain.

Utamakan Kepentingan Bangsa, Bukan Ego

Kritik Kenneth Roth lainnya yang sangat relevan untuk direnungkan adalah Trump harus mengutamakan kepentingan bangsa dan dunia di atas egonya sendiri untuk sekali ini.

Kemampuan Trump menyangkal fakta dan memelintir realitas memang mengesankan, tetapi tidak ada lagi ruang untuk memutarbalikkan kekacauan ini sebagai kemenangan.

Dunia perlu mengambil pelajaran bahwa perang tanpa rencana cadangan bukanlah kebijakan negara, melainkan petualangan berbahaya yang merugikan semua pihak.

Hal yang dibutuhkan sekarang adalah kembali pada diplomasi, menjadikan kekuatan militer sebagai pilihan terakhir sesuai Piagam PBB, dan fokus pada tujuan awal, yaitu mencegah Iran memiliki senjata nuklir melalui inspeksi ketat serta pembatasan pengayaan.

Upaya tersebut harus ditempuh melalui jalur perundingan, bukan melalui bom yang hanya membuka pintu lebih lebar bagi kekacauan.[]

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button