Kekuasaan dan Jarak Rakyat
Pertanyaan itu menjadi penting ketika ruang publik dipenuhi berbagai kegaduhan. Pemerintah menghadapi tuntutan untuk menjalankan program besar sekaligus menjawab kritik tentang daya beli, pekerjaan, pelayanan publik, korupsi, dan persoalan lain yang menggerus kepercayaan publik.
Dalam situasi seperti itu, politik tidak cukup hanya membangun gambar kedekatan. Politik membutuhkan pengalaman kedekatan karena gambar menghasilkan foto, sedangkan pengalaman menghasilkan kepercayaan.
Perbedaannya sering kali baru terlihat setelah kamera pergi. Di depan kamera, seorang pemimpin dapat berjabat tangan dengan warga.
Setelah rombongan berlalu, warga kembali ke rumah, pasar, tempat kerja, atau sekolah. Di sanalah kebijakan negara bertemu dengan kehidupan yang sebenarnya.
Harga barang tidak berubah karena sebuah foto, begitu pula pendapatan tidak bertambah karena sebuah tos. Pelayanan publik juga tidak menjadi lebih baik hanya karena pejabat datang menyapa.
Simbol tetap penting karena pemimpin perlu turun melihat langsung keadaan masyarakat. Negara juga membutuhkan komunikasi yang tidak selalu formal dan berjarak.
Namun, simbol hanya akan bermakna jika memiliki hubungan dengan pengalaman yang dirasakan masyarakat.
Oleh karena itu, tangan yang ditepis tidak perlu dijadikan bukti bahwa rakyat menolak pemerintah. Kesimpulan seperti itu terlalu berlebihan.
Meski demikian, kita tidak perlu mengabaikan momen tersebut hanya karena sebuah gestur. Justru di situlah pertanyaan lebih besar diajukan: seberapa dekat kekuasaan dengan kehidupan orang yang ingin didekatinya?
Pertanyaan itu tidak dapat dijawab oleh satu video, melainkan oleh kebijakan, pelayanan, kesempatan kerja, kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan hidup, dan kepercayaan.
Demokrasi membutuhkan hubungan yang lebih dalam daripada sekadar pertemuan tangan pemimpin dan warga. Kekuasaan membutuhkan kepercayaan agar kebijakan dapat diterima.
Masyarakat membutuhkan keyakinan bahwa keputusan pemerintah tidak berhenti sebagai narasi, melainkan membawa perubahan nyata dalam kehidupan.
Di era media sosial, tantangannya menjadi semakin rumit. Sebuah gambar dapat membangun kesan kedekatan dalam hitungan detik, sedangkan kebijakan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk membuktikan manfaatnya.






