NUIM HIDAYAT

Kekuatan Al-Qur’an

Kisah pembunuhan Qabil terhadap saudaranya Habil menarik dicermati. Kisahnya adalah bermula ketika keduanya diperintah Allah untuk mempersembahkan hewan kurban. Qabil menyerahkan hewan kurban yang jelek, sedangkan Habil menyerahkan hewan kurban yang bagus. Allah kemudian menerima kurbannya Habil, kurbannya Qabil ditolak.

Disitulah Qabil marah dan akhirnya membunuh saudaranya sendiri. Inilah bahaya penyakit hasad (dengki). Tidak ingin orang lain meraih Bahagia (kesuksesan). Harusnya Qabil melakukan introspeksi dan kemudian menyerahkan hewan kurban yang lebih bagus, tapi justru malah ia membunuh saudaranya sendiri. Inilah kisah sejarah pembunuhan manusia pertama.

Bahaya hasad ini, diungkap Al-Qur’an dalam surat al Falaq. Mari kita renungkan, “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”

Penyakit dengki yang ada di diri manusia inilah yang menyebabkan pembunuhan manusia ke manusia lain terus terjadi. Presiden Trump dan PM Netanyahu dengki melihat negara Islam Iran maju, maka Iran di bom. Dibunuh para pimpinannya. Ribuan rakyat Iran terbunuh. Netanyahu melihat Gaza di bawah Hamas berkembang makmur, maka Gaza dibom dan dibunuh lebih dari 72 ribu orang.

Bila nafsu dalam diri manusia kotor -dengki, sombong dll- maka orang itu akan bersekutu dengan Iblis untuk menindas manusia lain. Iblis/syetan bersorak gembira ketika manusia saling bunuh (lihat al Baqarah 30). Padahal manusia diciptakan Allah di muka bumi ini untuk beribadah dan memakmurkan bumi, bukan untuk saling mendengki atau saling membunuh untuk kejayaan bangsanya sendiri. Orang yang terkena penyakit dengki (dan sombong) maka akan hilang kepekaannya terhadap manusia lain. Hatinya tidak bisa menjadi cermin untuk membedakan perbuatan baik dan buruk. Ia akan terus menuruti nafsunya membunuh atau nafsunya untuk berbuat dosa besar lain, kecuali kalau ia bertobat.

Untuk mencegah nafsu rakus kuasa, tahta dan wanita ini, Al-Qur’an memberikan resep agar manusia sering ibadah kepad Allah dan sering melakukan amal kebaikan kepada manusia lain.

Al-Qur’an memberikan nasihat, “Wahai jiwa yang tenang (nafsu yang tenteram), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. al Fajr 27-30)

_“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. al Ashr)

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari hal yang sia-sia, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela, tetapi barang siapa mencari di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas, dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya, serta orang-orang yang menjaga salatnya, mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yaitu) yang akan mewarisi Surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Mu’minuun 1-11)

Inilah kekuatan Al-Qur’an, kehebatan Al-Qur’an. Dapat membentuk pribadi-pribadi Muslim yang mengagumkan. Pribadi yang taat kepada Allah dan RasulNya. Pribadi yang senantiasa menjaga dirinya dari perbuatan-perbuatan dosa besar : berzina, membunuh orang lain tanpa ‘haq’, menyekutukan Allah (syirik), berbohong dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya. Pribadi yang selalu berbuat kebaikan dimanapun, pribadi yang berani beramar makruf nahi mungkar, pribadi yang yang dermawan ilmu dan harta serta pribadi yang senantiasa saling berpesan perkara yang haq (kebenaran) dan kesabaran.

Tragedi Gaza dan Iran ini membuka mata kita buruknya akhlak para pemimpin negara Nasrani (Amerika) dan negara Yahudi (Israel). Karena itu Rasulullah berpesan agar tiap hari kita membaca surat al Fatihah minimal 17 kali dalam sehari. Di ayat terakhir al Fatihah ini menasihatkan agar kita tidak ikut jalan hidup Nasrani dan Yahudi.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai (Yahudi), dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat (Nasrani).”

Wallahu alimun hakim. Wallahu ghafurur rahim. Wallahu azizun hakim. Allah Maha Mengatahui dan Maha Bijaksana. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. []

Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Laman sebelumnya 1 2 3 4
Back to top button