NUIM HIDAYAT

Kekuatan Al-Qur’an

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ ۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا ۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, lalu hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (HR Bukhari)

“Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’la 16-17)

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَاۤءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ فَاخْتَلَطَ بِهٖ نَبَاتُ الْاَرْضِ فَاَصْبَحَ هَشِيْمًا تَذْرُوْهُ الرِّيٰحُ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا

“Dan buatlah untuk mereka perumpamaan kehidupan dunia, seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan suburnya karena air itu, kemudian tanaman itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. al Kahfi 45)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. at Takaatsur 1-2)

“Dan sungguh, yang kemudian (akhirat) itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia).” (QS. adh Dhuha 4)

وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan dengan akhirat kecuali seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang kembali (dari air itu).” (HR Muslim)

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir (yang hanya lewat).” (HR Bukhari)

Dunia adalah tempat cocok tanam untuk akhirat. Maka tugas seorang Muslim di dunia adalah mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya dan menjauhi dosa sejauh-jauhnya. Agar nanti bila amal kita ditimbang di akhirat, maka amal shalih itu lebih berat daripada dosa yang kita lakukan.

Al-Qur’an menyatakan bahwa bila timbangan amal shalih kita lebih berat daripada dosa yang kita lakukan, maka kita masuk surga. Begitu juga sebaliknya, bila dosa kita lebih banyak dari pahala amal shalih, kita akan mengalami neraka dulu sementara (untuk umat Islam).

“Timbangan pada hari itu (kiamat) adalah kebenaran. Barang siapa berat timbangan (amal kebaikannya), maka mereka itulah orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangan (amalnya), maka mereka itulah orang yang merugikan dirinya sendiri.” (QS. Al A’raf 8-9)

“Adapun orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka ia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Dan orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. al Qariah 6-9)

وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا ۗ وَاِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ اَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفٰى بِنَا حَاسِبِيْنَ

“Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan sedikit pun. Dan jika (amal itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkannya (untuk diperhitungkan). Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. al Anbiya‘ 47)

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button