Kekuatan Iman kepada Nabi
Filsafat kepemimpinan dalam Islam, memimpin bukan untuk berhura-hura. Seorang pemimpin dalam Islam harus siap menderita, Leiden is lijden. Memimpin itu menderita, kata Kasman Singodimedjo kepada Agus Salim.
Lihatlah kepemimpinan yang berhasil dalam sejarah Islam, para pemimpin yang berhasil memakmurkan rakyatnya adalah pemimpin yang hidup sederhana. Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz adalah diantara tokoh yang berhasil dalam mengatur rakyatnya. Keduanya hidup sederhana, padahal kas negara saat itu melimpah. Beda jauh dengan watak banyak pemimpin sekarang. Mereka terus bergelimang harta, padahal jutaan rakyatnya masih hidup dalam kemiskinan.
Kehebatan para pemimpin Islam itu karena mereka meneladani Rasulullah saw. Rasul hidup sangat sederhana, tidak mau bermewah-mewah. Tidak mau membangun istananya dengan emas, sebagaimana kebisaan Raja Romawi dan Persia. Rasul sering berpuasa, di saat banyak kepala negara lain sering makan makanan mewah. Rasul hampir tidak pernah meninggalkan shalat malam, di saat rakyatnya atau kepala negara lain banyak yang tertidur pulas di malam hari.
Iman kepada Nabi ini menjadikan seorang Muslim mempunyai panduan dalam hidup. Mempunyai panduan dalam memilih atau menjadi pemimpin. Mempunyai panduan ketika hidup sebagai orang tua, pemimpin masyarakat, pemimpin negara atau dunia.
Kerusakan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara seperti di Barat adalah karena mereka tidak punya teladan kepemimpinan. Sehingga yang terjadi anak perempuan umur 14 tahun banyak yang tidak perawan, merebak LGBT, senang mengorbankan peperangan (Amerika dan Israel), memusuhi kelompok yang ingin mendirikan negeri Islam/Khilafah Islamiyah meski dengan cara damai, menyokong penuh pemimpin-pemimpin zalim di negeri-negeri Islam dan lain-lain.
Iman kepada Nabi menjadikan seorang Muslim mempunyai panduan hidup yang jelas. Sebagai anak, remaja, dan dewasa (orang tua). Kata-kata dan perbuatan Rasulullah yang merupakan Al-Qur’an yang berjalan, menjadi pedoman hidup seorang Muslim. Sehingga seorang Muslim bersyukur kepada Allah karena dibimbing dalam hidup hanya lewat bacaan (Al-Qur’an), tapi juga adanya teladan sosok manusia terbaik, Rasulullah saw.
Selain itu yang kadang dilupakan bahwa Rasulullah mempunyai tiga tugas utama, sebagaimana yang disebut dalam Al-Qur’an, yaitu:
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul dari kalangan kamu sendiri yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, mensucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. al Baqarah 151)
Dalam “Tafsir al Azhar”, Buya Hamka dinyatakan yatlu ‘alaikum āyātinā (membacakan ayat), bermakna Nabi menyampaikan Al-Qur’an secara langsung. Seorang Muslim -khususnya para pemimpin- dituntut membacakan ayat-ayat Allah kepada masyarakat. Yuzakkikum bermakna mensucikan kamu. Ini artinya para Nabi membentuk akhlak dan jiwa umat yang suci serta membersihkan dari masyarakat dari syirik, kebodohan, dan kebiasaan-kebiasaan jahiliyah yang merusak masyarakat.
Sedangkan yu‘allimukum al-kitāb wal-ḥikmah bermakna mendidik dengan Al-Qur’an dan hikmah (pemahaman yang mendalam/Sunnah Nabi). Hikmah bisa bermakna rahasia segala sesuatu.
Jadi iman kepada para Nabi menjadikan seorang muslim, baik rakyat maupun pemimpinnya mempunyai panduan yang jelas dalam kehidupan. Bila iman kepada Nabi ini hilang, maka para pemimpin tidak punya panduan dalam menjalani kepemimpinannya. Sehingga yang terjadi adalah rebutan kepemimpinan atau rakus kuasa. Rakus kekuasaan ini menyebabkan seorang pemimpin itu akan tega membunuh ribuan bahkan jutaan orang untuk mempertahankan kekuasaannya. Ini bisa kita lihat dalam pribadi: Bush, Trump, as Sisi, Netanyahu, Putin dan lain-lain.
Iman kepada Nabi menjadikan Impian dunia yang damai, adil dan makmur bukan sebuah utopia. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ketika menjadi pemimpin Madinah, Rasulullah mempersaudarakan suku-suku yang suka berperang, membawa perdamaian dengan kelompok agama lain, memakmurkan masyarakat dan lain-lain. Sayang, kebijaksanaan terpuji Rasulullah saw itu terus ditentang kaum kafir Quraisy dan kaum Yahudi sehingga banyak terjadi peperangan saat itu.
Kebijaksanaan yang terpuji juga nampak dalam peristiwa Fathu Makkah (penaklukkan Makkah). Meski masyarakat Mekkah memusuhi Nabi dan membunuh beberapa sahabat Nabi sebelumnya, Rasulullah tidak balas dendam. Rasulullah membawa perdamaian dan kebahagiaan di Kota Makkah.






