Kekuatan Iman kepada Nabi
Iman kepada Nabi/Rasul adalah salah satu prinsip yang sangat penting dalam rukun Iman. Nabi adalah manusia terbaik yang diturunkan Allah di muka bumi ini untuk membimbing manusia ke jalanNya. Jalan kebahagiaan dunia akhirat.
Nabi ini adalah ibarat dokter dalam kehidupan. Ia tahu jalan menuju kebahagiaan dan kerusakan dunia (manusia). Manusia yang menolak Nabi maka hidupnya akan ‘sengsara‘, di dunia atau kehidupan setelah dunia. Sedangkan mereka yang mengikuti Nabi akan bahagia dunia dan akhirat.
Nabi, dalam hidupnya dibimbing Allah Swt dengan wahyu yang diturunkan kepadanya. Nabi dijaga Allah menghindar dari dosa-dosa besar (ma’shum). Nabi mungkin melakukan kesalahan, tapi kesalahan-kesalahan kecil yang manusiawi.
Nabi Adam as pernah melanggar larangan memakan buah (‘khuldi‘), sehingga ia diturunkan ke dunia. Begitu juga Nabi saw pernah melakukan ‘kesalahan‘ berdakwah kepad para pembesar Quraisy dan mengabaikan orang buta yang datang kepadanya.
Kedua Nabi itu langsung ditegur Allah dan kemudian kesalahannya diampuni.
Al-Qur’an mengisahkan tobatnya Nabi Adam,
وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ فَاَزَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚ وَلَكُمْ فِى الْاَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
“Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!” Lalu, setan menggelincirkan keduanya darinya sehingga keduanya dikeluarkan dari segala kenikmatan ketika keduanya ada di sana (surga). Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. al Baqarah 35-37)
Al-Qur’an mengisahkan ‘kesalahan’ Nabi Muhammad Saw dan hikmahnya dalam Surah Abasa ayat 1-42. Namun, meski Nabi Muhammad saw pernah melakukan kesalahan (kecil), tapi beliau dijadikan Allah Swt sebagai model manusia terbaik. Beliau adalah manusia sempurna (insan kamil). Beliau adalah semulia-mulia makhluk. Beliau adalah pemimpin para Nabi.
Al-Qur’an menjelaskan,
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ
“Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara dari hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diturunkan (kepadanya).” (QS. an Najm 3-4)
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. al Ahzab 21)
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. al Qalam 4)
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al Anbiya‘ 107)
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ ۚ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat mereka dalam Taurat dan sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menguatkannya, maka menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya agar Allah menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan (kekuatan) orang-orang beriman itu. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al Fath 29)






