Kemenkes Ingatkan Bahaya Cacar Api Mengintai Eks Pasien Cacar Air
Jakarta (SI Online) — Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan bahwa individu yang pernah terinfeksi cacar air atau Varicella zoster berisiko tinggi terserang cacar api pada masa mendatang.
Virus tersebut menetap secara permanen di dalam tubuh dan dapat aktif kembali sewaktu-waktu akibat faktor penyakit komorbid, stres, hingga penurunan imunitas karena faktor usia.
“Masyarakat mungkin menganggap cacar api itu biasa-biasa saja, atau nanti diobati sembuh. Tapi pada kondisi-kondisi tertentu tadi bisa kena jantungnya, apalagi kalau dia punya hipertensi, diabetes melitus, dan biasanya orang tua juga gampang stres ya,” kata dr. Siti Nadia Tarmizi saat ditemui di Jakarta, Selasa (28/04/2026).
Pemerintah mendorong masyarakat untuk segera mendapatkan vaksinasi secara mandiri sebagai langkah pencegahan dini, khususnya bagi kelompok lansia yang mendekati usia 50 tahun.
Data hasil cek kesehatan gratis menunjukkan sekitar 60 juta penduduk Indonesia mengidap hipertensi dan 30 juta lainnya menderita diabetes melitus yang memperbesar risiko serangan cacar api.
Gaya Hidup Sehat Perkuat Imunitas
Pada kesempatan yang sama, Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI) dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP, FIHA menekankan pentingnya olahraga dan pola hidup sehat untuk menjaga kestabilan daya tahan tubuh.
“Sistem imun kita itu naik turun, kadang dia bagus, kadang dia jelek gitu. Jadi perlu diingat bahwa sistem imun itu tergantung dari lifestyle yang sehat,” katanya.
Para ahli menyarankan masyarakat untuk berolahraga rutin dengan durasi minimal 150 menit per minggu pada intensitas sedang guna membentengi tubuh dari reaktivasi virus.
Manajemen stres dan kemampuan menikmati hidup menjadi faktor krusial lainnya agar beban pikiran tidak merusak sistem pertahanan alami tubuh. “Jangan terlalu banyak dipikirkan,” katanya.
Pemenuhan asupan nutrisi seimbang juga sangat diperlukan untuk menunjang kesehatan, termasuk konsumsi suplemen tambahan berdasarkan anjuran dokter jika kondisi fisik membutuhkannya.
Kualitas istirahat yang terjaga menjadi penutup rangkaian pola hidup sehat karena durasi tidur yang tidak ideal terbukti meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular secara signifikan.
Ads: Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Poltek Kesehatan kunjungi poltekkestulangbawangbarat.org
“Di samping tadi lifestyle yang sehat, apapun itu, tidurnya juga harus cukup, misalkan normal kan 6-8 jam. Kalau kurang dari enam jam, risiko kardiovaskular meningkat, lebih dari delapan jam, risikonya juga meningkat,” pungkasnya.[]
sumber: ANTARA






