SEHAT-BUGAR

Kenali Sinyal Halus Stres yang Kerap Terabaikan

Jakarta (SI Online) – Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Teresa Indira mengungkapkan bahwa stres sering kali muncul dalam bentuk samar dan gejalanya kerap disepelekan karena tidak selalu dipicu oleh peristiwa besar.

“Seringkali stres tidak selalu muncul dalam bentuk ‘merasa tertekan’ atau ‘sedih’. Justru yang sering terjadi, stres muncul dalam bentuk yang lebih halus dan dianggap sepele. Penting juga untuk dipahami bahwa sumber stres itu tidak selalu berasal dari kejadian besar,” kata Teresa, Rabu (15/04/2026).

Teresa menjelaskan bahwa manusia merupakan sistem interaksi antara pikiran, emosi, tubuh, dan perilaku sehingga stres tidak hanya berupa beban pikiran tetapi juga mewujud dalam ketegangan fisik serta perubahan sikap.

Gejala stres yang kerap tidak disadari meliputi rasa mudah lelah meski tanpa aktivitas berat, sulit berkonsentrasi, sifat yang lebih sensitif, hingga perasaan kosong dan kehilangan semangat.

Manifestasi stres juga dapat muncul melalui berbagai keluhan fisik seperti sakit kepala, ketegangan pada leher dan bahu, gangguan tidur, hingga perubahan pola makan yang drastis.

“Ketika seseorang mengalami stres atau tekanan emosional, tubuh akan ikut bereaksi. Misalnya jantung berdebar, napas menjadi lebih cepat, otot menegang, bahkan sistem pencernaan bisa terganggu. Jika ini berlangsung lama, bisa muncul keluhan seperti maag, sulit tidur, atau mudah lelah,” katanya.

Kondisi fisik yang tidak bugar akibat kurang istirahat atau kelelahan secara timbal balik dapat memperburuk kondisi mental sehingga seseorang menjadi lebih sulit dalam mengelola tekanan.

Stres yang tidak tertangani cenderung memicu perilaku menunda pekerjaan akibat munculnya pikiran negatif yang menimbulkan kecemasan serta keinginan kuat untuk menghindar.

Teresa menyebutkan bahwa tekanan harian yang dianggap biasa seperti beban kerja, kemacetan, hingga kurang tidur dapat menumpuk dan berdampak signifikan pada kesehatan mental jika terjadi secara terus-menerus.

Selain tekanan rutin, stres dapat bersumber dari peristiwa hidup yang signifikan seperti berakhirnya hubungan asmara, kehilangan orang terdekat, konflik rumah tangga, hingga perubahan hidup yang drastis.

“Kedua jenis stres ini sama sama valid dan bisa memengaruhi seseorang,” jelasnya.

Guna mengurangi dampak stres harian, Teresa menyarankan individu untuk melatih kesadaran diri dengan menghentikan pekerjaan sejenak melalui teknik pernapasan perlahan, peregangan ringan, atau berjalan kaki singkat.

Individu juga diimbau untuk tidak terjebak dalam pikiran negatif tentang diri sendiri serta mulai mengapresiasi momen-momen kecil yang menyenangkan demi menjaga keseimbangan psikologis harian.

Ads: Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Poltek Kesehatan kunjungi poltekkesbangkatengahkab.org

“Contohnya sederhana, tetap bisa menikmati makanan, tertawa sebentar dengan teman, atau merasa lega setelah menyelesaikan satu hal kecil. Momen momen ini terlihat kecil, tapi sangat membantu menjaga keseimbangan emosi,” katanya.

Sumber: ANTARA

Back to top button