NUIM HIDAYAT

Kenapa Prabowo Tidak Berani Kecam AS dan Israel?

Bukan itu saja. Prabowo juga kacau ketika memberikan jabatan kepada para wakil menterinya untuk merangkap jadi komisaris.

Jadi di satu sisi presiden ingin membela rakyat kecil, mengentaskan kemiskinan, tapi di sisi lain presiden membuat para pejabat di sekelilingnya bermewah-mewah. Kontradiksi.

Dalam masalah MBG misalnya, Prabowo berkeinginan memberi makan bergizi kepada orang-orang miskin. Tapi apa yang terjadi? Realitasnya MBG bukan hanya untuk anak miskin, tapi anak-anak orang kaya juga banyak yang menikmati. Kalau begini yang salah pejabat-pejabat BGN atau Prabowonya. Seorang mantan menteri di zaman SBY kepada saya menyatakan, yang salah Prabowo-nya, dia tidak pandai dalam pelaksanaan (manajemen).

Paradoks Prabowo ini sekarang banyak menjadi perbicangan para ahli termasuk netizen.

Dalam masalah politik luar negeri misalnya. Prabowo dihantam habis oleh banyak mahasiswa dan tokoh, karena menyeret Indonesia masuk dalam BOP. Prabowo kemudian mengundang tokoh-tokoh Islam dan para ahli untuk berdialog dengannya terkait masalah BOP.

Hampir semua yang keluar dari dialog istana itu, setuju dengan Prabowo bahwa Indonesia perlu ikut dalam BOP. Dalam rangka untuk ikut andil untuk perdamaian dan kemerdekaan Palestina. Tapi sayangnya alasan-alasan para tokoh itu banyak yang tidak sampai kepada publik. Harusnya Prabowo sendiri yang menjelaskan panjang lebar alasannya untuk masuk BOP dan peran strategis Indonesia di dalamnya. Bukan orang lain.

Kini, ketika Iran diserang oleh Amerika dan Israel, Prabowo juga banyak dihujat. Baik oleh para ahli maupun media massa. Keinginan Prabowo untuk menjadi mediasi perang di Timur Tengah itu, banyak ‘ditertawakan para ahli’. Mereka menyatakan bahwa keinginan Prabowo itu hampir mustahil disetujui oleh Iran, Israel atau Amerika.

Yang disayangkan banyak masyarakat Indonesia, adalah kenapa Prabowo tidak berani mengecam kebrutalan AS dan Israel secara terbuka. Presiden Erdogan dan PM Spanyol Pedro Sanchez berani secara terbuka mengecam agresi AS dan Israel ke Iran yang jelas-jelas melanggar hukum internasional.

Jangan-jangan dalam pertemuan dengan para tokoh Islam semalam, Prabowo sebenarnya mengecam agresi itu. Saya tidak tahu.

Tapi tidak beraninya Prabowo berdiri tegak melawan kezaliman AS dan Israel itu jelas-jelas menunjukkan kelemahan pribadinya. Prabowo yang suka pidato berapi-api -kadang dengan menggebrak meja- di depan rakyat Indonesia, kenapa menciut bila pidato di PBB (atau di depan Trump dan Netanyahu)?

‘Diplomasi mengkeret’ Prabowo juga terlihat dalam perjanjian perdagangan resiprokal dengan Amerika beberapa waktu lalu. Agreement on Reciprocal Trade ini dikritik oleh banyak ahli sangat merugikan Indonesia. Anda bisa melihat detil kekalahan diplomasi perjanjian dagang di Majalah Tempo yang terbaru.

Melihat kritikan majalah Tempo atau para ahli dalam bidang luar negeri ini harusnya Prabowo langsung menjawabnya di muka publik. Publik tidak puas bila Prabowo hanya bicara dengan para tokoh di dalam istananya saja. Rakyat atau pers perlu penjelasan yang sejelas-jelasnya kebijakan-kebijakan yang strategis diambil presiden.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button