NUIM HIDAYAT

Kenapa Prabowo Tidak Berani Kecam AS dan Israel?

Alhamdulillah saya tidak ikut dalam pertemuan para kiai dan pimpinan pesantren dengan Presiden Prabowo tadi malam. Karena memang saya bukan kiai dan bukan pimpinan pesantren. Kabarnya pertemuan itu mengagumkan karena -lagi-lagi- Prabowo cerita geopolitik dunia khususnya Timur Tengah dan dampaknya bagi Indonesia.

Meski saya tidak ikut pertemuan itu, tapi saya sedikit tahulah gambarannya. Saya mengikuti jejak Prabowo sejak sekitar 1997. Saat itu saya sebagai wartawan. Saya tahu keahlian Prabowo dalam pidato dan mempengaruhi massa. Ya mirip-mirip Soekarno lah.

Bayangkan saat itu ketika ia menjadi Pangkostrad -masih tampan- ia menceramahi banyak intektual di Indonesia. Mereka berkumpul di kantor Fadli Zon -Institut for Policy Studies– dan Prabowo ceramah. Sering kumpul di kantor Fadli itu, Jimly as Shiddiqi, Din Syamsuddin, Hajriyanto A Tohari dan kadang-kadang Amien Rais nimbrung juga.

Dalam pidato biasanya Prabowo ceramah soal kondisi ekonomi nasional, ekonomi yang timpang dikuasai sejumlah konglomerat, sumberdaya alam Indonesia yang kaya dan lain-lain.

Yang menarik adalah ceramah Prabowo di rumah KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i tahun 2016 menjelang Aksi Super Damai 212. Di situ Prabowo kelihatan cerdasnya menguraikan para politisi Amerika dengan berbagai latar belakang ideologinya dan termasuk politisi Melayu.

Pokoknya kalau ceramah Prabowo top. Isinya daging semua, kata anak sekarang. Pertanyaannya dalam praktek bagaimana.

Presiden Soekarno diakui oleh masyarakat tanah air dan dunia kalau pidato menggetarkan. Sehingga banyak masyarakat Indonesia yang kagum. Maka jangan heran PNI partai Soekarno menang dalam pemilu 1955, karena faktor utamanya kepandaian presiden ini dalam pidato.

Meski pandai pidato, bukan berarti Soekarno pandai segalanya. Dalam praktik pelaksanaan Soekarno kurang pandai. Sehingga Buya Hamka dalam salah satu tulisannya (di buku “Dari Hati ke Hati”), mengritik Soekarno yang senangannya pidato melulu. Ketika rakyat kesulitan ekonomi, antri beras dll, Soekarno malah mengumpulkan rakyat untuk diceramahi.

Saya tidak tahu, apakah Prabowo mirip Soekarno atau tidak. Pandai pidato, tapi tidak pandai dalam pelaksanaan (manajemen).

Tapi, yang saya amati manajemen Prabowo tidak sehebat pidatonya. Ia lebih sering kedodoran dalam menata manajemen ekonomi, politik luar negeri dan lain-lain. Entah karena staf bawahannya yang kurang pandai, bersikap asal bapak senang, atau Prabowonya sendiri memang tidak suka hal yang detil.

Dalam istilah manajemen terkenal perkataan, the devil is in details. Seorang pemimpin tidak cukup memberikan visi kepada bawahannya, tapi pemimpin juga harus mampu mengawasi atau memonitor bawahannya sehingga mereka mampu menerjemahkan visi pemimpin itu dengan tepat.

Mulai dari penyusunan kabinet, Prabowo sudah kedodoran. Niatnya ingin menampung semua partai atau aliran, tapi yang terjadi akhirnya kabinet kegemukan. Sehingga uang negara banyak tersedot ke fasilitas para menteri.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button