Ketenaran: Racun Halus bagi Sang Penuntut Ilmu
Jika ketenaran muncul sebagai akibat dari keikhlasan dan dimanfaatkan untuk hal-hal positif, itu bisa menjadi alat dakwah yang efektif. Masalah utama muncul saat hati mulai bergantung pada perhatian tersebut.
Maka dari itu, penting untuk melakukan muhasabah atau introspeksi secara rutin. Seorang murid harus terus-menerus bertanya dalam hatinya untuk siapa ia melakukan semua ini.
Apakah ia tetap bersemangat beramal meskipun tidak ada yang melihat atau memuji? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting untuk menjaga ketulusan niat.
Selain itu, ia juga perlu menjaga hubungan dengan guru atau orang-orang saleh yang bisa mengingatkannya ketika mulai tersesat. Kesimpulannya, pernyataan “إقبال الناس على المريد سم قاتل” merupakan nasihat yang sangat penting, terutama pada zaman sekarang yang terbuka dan dipenuhi dengan budaya ketenaran.
Media sosial bisa dengan cepat membuat seseorang terkenal dalam waktu singkat. Tanpa dasar keikhlasan yang kokoh, hal ini bisa menjadi tantangan yang sulit.
Strategi terbaik adalah tetap berfokus pada tujuan utama, yaitu mencari rida Allah. Perhatian orang lain mungkin datang dan pergi, tetapi keikhlasan harus tetap dipertahankan.
Dengan cara ini, seorang murid tidak akan terjerat dalam “racun mematikan” tersebut. Ia akan tetap istikamah dalam perjalanan menuju kebaikan yang sejati.[]
(Disarikan dari kitab Al-Minah Al-Qudsiyyah Alal Hikam Al-Athoiyyah karangan Ibnu Athaillah as-Sakandari)
Ahmad Dhiyaul Lamik, Mahasantri Ma’had Aly Darussalam Semester 4.






