OPINI

Ketika Umat Islam Membela Prancis, Satu Sisi Sejarah yang Jarang Dibicarakan

Mengapa sebagian warga Prancis tertarik memeluk Islam?

Tentu, tidak tepat jika seluruh perkembangan Islam di Prancis dianggap sebagai akibat langsung dari sejarah peperangan tersebut.

Ada banyak faktor yang memengaruhi keputusan seseorang untuk memeluk agama baru.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam The International Journal for the Psychology of Religion (2007), berjudul Conversion to Islam Among French Adolescents and Adults, mengidentifikasi sejumlah motif perpindahan agama di kalangan warga Prancis.

Penelitian tersebut menemukan beberapa faktor, antara lain:

1. Pencarian intelektual. Sebagian orang tertarik mempelajari ajaran Islam, konsep ketuhanan, kehidupan setelah kematian, serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

2. Pengalaman spiritual. Ada orang yang menemukan ketenangan dan makna kehidupan melalui ajaran dan praktik keislaman.

3. Pengalaman sosial. Pergaulan dengan teman, pasangan, atau komunitas Muslim dapat membuka kesempatan untuk mengenal Islam secara lebih dekat.

4. Ketertarikan terhadap nilai kemanusiaan. Sebagian responden tertarik pada ajaran kepedulian sosial, solidaritas, dan keberpihakan terhadap orang-orang yang membutuhkan.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa motif perpindahan agama umumnya bersifat personal dan aktif, bukan semata-mata karena pengaruh lingkungan sosial.

Artinya, ketertarikan terhadap Islam tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu alasan. Ada proses pencarian, pembelajaran, pengalaman, dan pertimbangan pribadi di balik keputusan seseorang.

Jangan keliru membaca angka perkembangan Islam di Prancis

Menurut penelitian INSEE (Institut Statistik Nasional Prancis) bersama INED yang diterbitkan pada 2023, sekitar 10 persen penduduk Prancis daratan berusia 18–59 tahun menyatakan dirinya beragama Islam berdasarkan survei 2019–2020.

Islam menjadi agama terbesar kedua setelah Katolik dalam survei tersebut.

Namun, angka ini tidak berarti 10 persen penduduk Prancis merupakan orang yang baru masuk Islam. Sebagian besar merupakan masyarakat Muslim keturunan imigran yang mewarisi agama dari keluarga mereka.

Prancis juga tidak mencatat agama penduduk dalam sensus nasional. Karena itu, angka pasti mengenai jumlah warga Prancis yang berpindah agama ke Islam tidak mudah diperoleh.

Pembedaan ini penting agar kita tidak membangun kesimpulan berdasarkan angka yang keliru.

Sejarah boleh menjadi pintu, tetapi keyakinan harus lahir dari kesadaran. Ada satu pelajaran menarik dari seluruh rangkaian sejarah ini.

Dahulu, umat Islam dari Afrika Utara ikut mempertaruhkan nyawa untuk membela Prancis. Kini, sebagian masyarakat Prancis justru memilih Islam sebagai jalan keyakinan mereka.

Tentu, keduanya merupakan peristiwa yang berbeda dan tidak boleh dicampuradukkan. Pengorbanan tentara Muslim pada masa perang bukanlah alasan otomatis bagi seseorang untuk memeluk Islam pada masa sekarang.

Namun, sejarah tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara Islam dan masyarakat Prancis jauh lebih panjang dan kompleks daripada gambaran yang sering muncul dalam perdebatan politik maupun pemberitaan media.

Ada masa ketika umat Islam dipandang sebagai bagian dari kekuatan yang dibutuhkan Prancis di medan perang. Ada pula masa ketika identitas Islam menjadi bahan perdebatan dalam kehidupan sosial dan politik Prancis.

Di tengah semua dinamika itu, sebagian warga Prancis tetap memilih mempelajari Islam dan menemukan keyakinannya sendiri.

Pada akhirnya, agama tidak seharusnya dinilai hanya dari tindakan sebagian pemeluknya, apalagi semata-mata dari konflik politik yang mengatasnamakan agama.

Islam perlu dikenal melalui sumber ajarannya, nilai-nilai yang dibawanya, dan bagaimana ajaran tersebut dipraktikkan dalam kehidupan.

Sebab, sejarah dapat mempertemukan manusia dengan Islam, tetapi hidayah dan keyakinan adalah perjalanan pribadi yang setiap langkahnya hanya terjadi atas petunjuk Penguasa Dunia – Akhirat. Wallahu’alam.

E. Saiful Hidayat

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button