Khotbah Idulfitri, MS Kaban Serukan Persatuan Dunia Islam
Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Ummat itu juga mengutip hadits Rasulullah saw riwayat Bukhari dari Abdullah bin Umar, bahwa seorang Muslim tidak boleh membiarkan saudaranya teraniaya.
“Diam di hadapan kezaliman yang menimpa saudara seiman bukan sikap netral — ia adalah pelanggaran ukhuwah,” katanya.
Kaban juga mengingatkan agar umat membangkitkan kembali semangat persaudaraan Muhajirin dan Anshar di Madinah sebagai model solidaritas yang belum tertandingi peradaban manapun hingga kini. Ia mengutip QS Al-Hasyr ayat 9 tentang itsar — sikap mendahulukan kepentingan saudara di atas diri sendiri — bahkan di tengah kekurangan sendiri.
“Kaum Anshar tidak menunggu kaya dulu baru berbagi. Mereka berbagi di tengah keterbatasan mereka. Pertanyaannya untuk kita hari ini: apakah semangat itsar itu masih hidup di dada kita?” tutur Kaban.
Ia juga menyinggung kisah Talut dalam QS Al-Baqarah ayat 249 sebagai jawaban atas pesimisme umat tentang kelemahan dunia Islam hari ini.
“Al-Qur’an telah menjawab empat belas abad yang lalu: ‘Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.’ Masalah kita bukan soal jumlah dan kekuatan material. Masalah kita adalah disiplin, keyakinan, dan solidaritas,” tegasnya.
Ia menyebut tiga kunci kemenangan yang terkandung dalam ayat tersebut: lulus ujian disiplin, keyakinan yang mengalahkan logika ketakutan, dan sabar yang strategis — bukan sabar yang pasif dan menyerah.
Secara khusus Kaban menyampaikan lima catatan penting untuk dibawa pulang jamaah, yaitu:
Pertama, memuliakan sesama manusia tanpa memandang suku, partai, atau mazhab. Kedua, menjadi berkah nyata bagi lingkungan terdekat — tetangga, yatim, dan kaum lemah. Ketiga, mempraktikkan itsar — mendahulukan kepentingan saudara.
Lalu keempat, menolak menjadi bagian dari perpecahan umat, termasuk di ruang digital. Dan kelima, tidak berpaling dari saudara-saudara yang tertindas di Palestina, Suriah, Iran, dan di berbagai penjuru dunia.
“Ukhuwah bukan slogan. Ia adalah amal. Dan amal dimulai dari yang paling dekat — dari tetangga kita, dari lingkungan kita, dari sini,” pungkas Kaban. []
sumber: visibangsa






